📷ilustrasi Penjor Galungan di Bali/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Sebelum Galungan dilaksanakan, umat Hindu sejatinya melaksanakan rangkaiannya selama 1 bulan 7 hari yang diawali dengan Tumpek Wariga dan diakhiri dengan Buda Kliwon Pegatwakan yakni proses cabut penjor Galungan. Umat Hindu pun mulai disibukkan dari persiapan hingga pujawali di beberapa pura besar.
Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Wariga, tepat 25 hari sebelum Hari Raya Galungan, perayaan ini menjadi wujud nyata kearifan lokal dalam merawat hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tumpek Wariga bukan sekadar ritual, melainkan cerminan filosofi Tri Hita Karana yang menempatkan alam sebagai sumber kehidupan yang wajib dijaga.
Makna Mendalam Tumpek Wariga

Tumpek Wariga adalah hari untuk memuliakan tumbuh-tumbuhan. Masyarakat Bali memandang pohon-pohon bukan hanya sebagai penyedia buah atau naungan, tetapi juga sebagai bagian dari keseimbangan alam yang sakral. Perayaan ini mengajak umat Hindu untuk bersyukur atas karunia alam sekaligus memohon agar tumbuh-tumbuhan tumbuh subur dan berbuah lebat menjelang Galungan.
Menurut Ni Made Sri Arwati dalam bukunya Hari Raya Galungan (1992), Tumpek Wariga dikenal dengan berbagai nama seperti Tumpek Pengarah, Tumpek Pengatag, Tumpek Uduh, atau Tumpek Bubuh. Nama-nama ini mencerminkan esensi perayaan: memberikan “arahan” kepada tumbuh-tumbuhan agar menghasilkan buah yang melimpah. Hasil panen ini kelak dipersembahkan saat Galungan, menegaskan keterkaitan erat antara ritual, alam, dan kehidupan spiritual.
Prosesi Penuh Makna
Prosesi Tumpek Wariga biasanya berlangsung di kebun, tegalan, atau pekarangan rumah. Umat Hindu menghaturkan sesaji seperti canang pesucian, sesayut tanem tuwuh, dan bubur dari tepung beras kepada Dewa Sangkara, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi sebagai dewa pelindung tumbuh-tumbuhan. Bubur ini kemudian ditempelkan pada batang pohon setelah ditoreh sedikit, disertai sesapa yang diucapkan dengan penuh harap:
Kaki kaki, Nini nini, Sarwa tumuwuh. Niki tiyang ngaturin bubuh mangda ledang tumbuh subur, malih selae lemeng Galungan. Mabuah apang nged, nged, nged…
Saat mengucapkan kata “nged”, batang pohon diketuk tiga kali. Gestur ini melambangkan doa agar pohon berbuah lebat, sekaligus menjadi simbol komunikasi antara manusia dan alam. Pohon-pohon penghasil buah juga disirami tirta wangsuhpada, air suci yang dimohonkan dari pura atau merajan, sebagai wujud penghormatan.
Selain itu, Tumpek Wariga memiliki pantangan khusus. Menebang pohon atau memetik hasil panen dilarang keras pada hari ini. Larangan ini mengajarkan kesadaran untuk menghargai siklus alam dan menahan diri dari eksploitasi berlebihan.
Relevansi di Era Modern
Tumpek Wariga bukan hanya tradisi spiritual, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga lingkungan. Di tengah ancaman deforestasi dan perubahan iklim, kearifan lokal ini menawarkan pelajaran berharga tentang keberlanjutan. Dengan merawat tumbuh-tumbuhan, masyarakat Bali secara tidak langsung melestarikan ekosistem yang menjadi tumpuan kehidupan.
Perayaan ini juga memperkuat ikatan komunal. Prosesi yang dilakukan bersama-sama di kebun atau pekarangan menjadi momen untuk mempererat hubungan antarwarga, sekaligus menanamkan nilai-nilai pelestarian alam kepada generasi muda. Tumpek Wariga mengajarkan bahwa harmoni dengan alam bukanlah pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga kehidupan yang seimbang.
Menyambut Galungan dengan Kelimpahan
Tumpek Wariga adalah langkah awal menuju Hari Raya Galungan. Buah-buahan yang diharapkan melimpah dari perayaan ini menjadi persembahan penting saat Galungan, melambangkan rasa syukur dan keseimbangan spiritual. Lebih dari itu, Tumpek Wariga mengingatkan kita bahwa menjaga alam adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Dengan segala makna dan kepekaannya terhadap lingkungan, Tumpek Wariga tetap relevan sebagai warisan budaya yang hidup. Perayaan ini bukan hanya milik Bali, tetapi juga inspirasi bagi dunia untuk hidup selaras dengan alam.
***










