Tayang: Kamis, 11 September 2025 06:35 WITA
Penulis: Sumiati Wayan | Editor: Febrianti Saraswati

ORTIBALI.COM – Di balik lembaran-lembaran lontar Bali yang kuno, tersimpan kebijaksanaan leluhur yang masih relevan hingga kini. Manuskrip tradisional ini bukan sekadar catatan mitos, melainkan panduan hidup yang sarat makna.

Salah satu ajarannya yang menarik perhatian adalah larangan mendirikan bangunan di lahan tertentu seperti Karang Tenget, Karang Suwung, Telajakan, Hulun Pangkung, dan Rejeng Tukad. Mengapa aturan ini begitu ditekankan? Apa rahasia di baliknya?

Lontar Bali: Warisan Kebijaksanaan Leluhur

Lontar Bali adalah harta karun budaya yang merangkum pengalaman leluhur selama berabad-abad. Meski ditulis dalam bahasa yang penuh simbolisme dan narasi mitis, jangan buru-buru menyebutnya sekadar dongeng atau tahayul. Di dalamnya, terselip data historis dan pelajaran dari pengalaman traumatis masa lalu yang masih bisa kita jadikan pegangan. Bayangkan, ini seperti buku panduan bertahan hidup yang ditulis oleh nenek moyang kita!

Salah satu aturan penting dalam lontar adalah larangan membangun di lahan tertentu, seperti teba tukad (sempadan belakang rumah yang berbatasan dengan sungai atau jurang) dan telajakan (sempadan depan rumah yang berbatasan dengan jalan). Aturan ini bukan tanpa alasan. Ini adalah bentuk kearifan lokal yang dirancang untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Mengapa Telajakan dan Teba Harus Kosong?

Pernahkah kamu memperhatikan area kosong di depan rumah tradisional Bali yang disebut telajakan? Area ini sengaja dibiarkan bebas dari bangunan. Bukan cuma soal estetika, tetapi ada fungsi penting di baliknya. Telajakan berperan sebagai paritan atau kanal air alami yang menjadi “sungai dadakan” saat hujan deras melanda. Ketika air hujan mengalir deras, telajakan membantu mencegah banjir dengan memberikan ruang bagi air untuk mengalir tanpa hambatan.

Sementara itu, teba tukad—lahan di belakang rumah yang berbatasan dengan sungai atau jurang—juga wajib bebas dari bangunan. Ini adalah zona penyangga yang menjaga aliran sungai tetap lancar dan mencegah bencana seperti banjir atau longsor. Dengan menjaga lahan ini tetap alami, leluhur kita memastikan ekosistem tetap seimbang, sekaligus melindungi keselamatan jiwa dan harta.

Pelajaran dari Banjir: Saat Aturan Lontar Dilupakan

Banjir yang melanda Bali, seperti yang terjadi menjelang Hari Pagerwesi, menjadi pengingat pahit akan pentingnya kearifan lokal. Banyaknya bangunan yang kini berdiri di telajakan dan teba membuat air hujan tak lagi punya ruang untuk mengalir. Akibatnya, banjir dan kerusakan lingkungan pun tak terhindarkan. Padahal, jika kita mematuhi aturan dalam lontar, bencana ini bisa diminimalisir.

Lontar bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga panduan lingkungan yang relevan untuk zaman modern. Aturan seperti ini sejalan dengan konsep tata ruang modern yang menekankan pentingnya zona penyangga untuk mencegah bencana. Sayangnya, aturan tradisional seperti perarem telajakan-teba kini mulai terabaikan, baik karena kurangnya pemahaman maupun lemahnya penegakan regulasi.

Menghidupkan Kembali Kearifan Lontar di Era Modern

Banjir yang terjadi di Bali adalah alarm bagi kita semua untuk kembali menoleh pada kebijaksanaan leluhur. Lontar bisa menjadi inspirasi untuk menyusun regulasi tata ruang yang lebih baik, sekaligus memperkuat penegakan aturan yang sudah ada. Dengan menggabungkan kearifan lokal dan ilmu modern, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih aman dan lestari.

Bayangkan jika setiap pengembang properti atau pemerintah daerah mempertimbangkan lontar dalam perencanaan pembangunan. Bencana seperti banjir dan longsor bisa dikurangi, ekosistem terjaga, dan masyarakat hidup lebih harmonis dengan alam. Bukankah ini tujuan yang kita semua inginkan?

Penutup: Lontar sebagai Warisan dan Solusi

Lontar Bali bukan sekadar lembaran daun yang usang, tetapi warisan penuh makna yang masih relevan di era modern. Larangan membangun di Karang Tenget, Telajakan, atau Teba Tukad adalah bukti bahwa leluhur kita sudah memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam. Dengan menghidupkan kembali kearifan ini, kita bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga menyelamatkan lingkungan dan masa depan.

Mari jadikan lontar sebagai pengingat bahwa hidup harmonis dengan alam adalah kunci keberlanjutan. Yuk, mulai dari sekarang, kita dukung pembangunan yang bijak dan ramah lingkungan!

***


Sumber Artikel:

Lihat Sumber
Tanya AI