📷ilustrasi angkul-angkul rumah masyarakat Bali/ ortibali
Penulis: Widyawati | Editor: Putu Linggih
ORTIBALI.COM – Di Desa Adat Kapal, Mengwi, Badung, Bali, masyarakat setempat memegang teguh tradisi yang tak biasa: larangan menggunakan bata merah dan kayu jati dalam pembangunan rumah. Aturan ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari warisan budaya yang berakar pada sejarah dan nilai spiritual yang masih dihormati hingga kini.
Menurut Jero Bendesa Adat Kapal, I Ketut Sudarsana, larangan ini berasal dari peristiwa bersejarah pada tahun 1339. Saat itu, penguasa Bali, Dalem Bedahulu, mengutus patihnya, Ki Kebo Iwa dari Karang Buncing, keturunan Empu Sidi Mantra, untuk merestorasi Pura Sada di Desa Kapal. Bersama rombongan semeton Pasek Sanak Sapta Rsi, Ki Kebo Iwa datang dengan misi suci tersebut.
Untuk keperluan restorasi, Ki Kebo Iwa mengumpulkan bata merah dari Desa Nyanyi, Tabanan. Bata-bata tersebut diangkut menggunakan tandu dari kayu jati. Namun, saat bata merah disimpan di halaman Pura Sada, sebagian warga setempat mencuri material tersebut.
Marah atas kejadian itu, Ki Kebo Iwa mengeluarkan kutukan: siapa pun di Desa Kapal yang menggunakan bata merah untuk membangun rumah, kecuali untuk tempat suci atau fasilitas umum, akan ditimpa penderitaan dan penyakit tanpa obat. Dalam naskah kuno disebutkan, “Moga ta sira gering satumpur tan keneng usadigi,” yang berarti kutukan itu akan membawa malapetaka bagi pelaku.
Tak hanya bata merah, kayu jati juga menjadi pantangan. Saat digunakan sebagai tandu untuk mengangkut bata, kayu jati patah, sehingga dianggap tidak layak untuk pembangunan rumah di desa ini.
Masyarakat mempercayai bahwa melanggar larangan ini akan mendatangkan kutukan. Hingga kini, tradisi ini masih dijunjung tinggi. “Belum pernah ada yang melanggar. Dulu pernah ada satu kejadian, tapi pelaku akhirnya jatuh sakit dan memohon ampun di Pura Sada,” ujar Sudarsana.
Selain nilai spiritual, ada pula alasan praktis di balik larangan ini. Daerah Kapal dikenal sebagai wilayah kedap air. Jika bata merah digunakan, material ini cenderung menyerap air dari tanah, menyebabkan dinding rumah tampak basah dan kurang estetis. “Secara ilmiah, bata merah memang kurang cocok untuk kondisi tanah di sini,” tambah Sudarsana.
Tradisi ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Desa Kapal dalam menjaga harmoni antara budaya, spiritualitas, dan lingkungan. Dengan mematuhi aturan leluhur, mereka tidak hanya melestarikan warisan sejarah, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan tempat tinggal mereka.
***













