
📷Filosofi Daun Bingin dalam Upacara Adat Bali dan Makna 21 Helai/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM –Â Penggunaan daun (don) bingin dalam tradisi adat Bali memiliki makna yang berkaitan dengan penghormatan kepada pitara serta pemahaman masyarakat Bali mengenai keseimbangan kehidupan. Pemilihan daun bingin juga tidak dilakukan secara sembarangan. Dalam penjelasan yang bersumber dari pemahaman terhadap lontar Yama Purana Tattwa, pohon bingin ditempatkan sebagai salah satu pohon yang memiliki kedudukan khusus dan dianggap keramat.
Bagi masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut, pohon bingin memiliki hubungan dengan kesejukan. Bunga bingin juga dipahami sebagai makanan bagi para pitara. Pemaknaan tersebut menjadi salah satu alasan daun bingin digunakan dalam rangkaian prosesi adat tertentu.
Mengapa Daun Bingin Digunakan?
Pertanyaan yang muncul adalah mengapa yang digunakan dalam prosesi tersebut daun bingin, bukan daun dari pohon lainnya?
Dalam tradisi yang dijelaskan melalui lontar Yama Purana Tattwa, bingin memiliki kedudukan tersendiri. Pohon ini dipandang sebagai pohon yang keramat dan memiliki fungsi simbolis sebagai penyejuk. Bunga bingin juga memiliki makna sebagai makanan bagi para pitara.
Pemahaman tersebut kemudian berkaitan dengan proses nganget daun bingin. Dalam prosesi ini terdapat istilah ngajenganginan, yang berkaitan dengan arah atau proses mengantarkan pitara. Makna tersebut membuat penggunaan daun bingin tidak berhenti pada bentuk fisiknya sebagai bagian dari perlengkapan upacara. Daun tersebut ditempatkan dalam rangkaian simbol yang memiliki hubungan dengan penghormatan kepada leluhur.
Pemaknaan ini menunjukkan bahwa pemilihan sarana dalam tradisi Bali memiliki latar belakang tersendiri. Setiap unsur yang digunakan dapat memiliki fungsi simbolis berdasarkan pengetahuan dan tata cara yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Makna Nganget Daun Bingin dan Jumlah 21 Helai
Setelah proses nganget daun bingin dilakukan, daun tersebut kemudian diikat dalam bentuk yang disebut ngacum. Jumlah daun yang digunakan adalah 21 helai.
Jumlah tersebut memiliki kedudukan tersendiri dalam rangkaian prosesi. Dua puluh satu helai daun bingin disusun dan diikat sebagai bagian dari perlengkapan yang kemudian digunakan dalam tahapan berikutnya.
Angka 21 dalam proses tersebut tidak sekadar menunjukkan jumlah daun yang harus disiapkan. Bagi masyarakat yang memahami tata cara ini, jumlah tersebut merupakan bagian dari ketentuan yang diwariskan dan memiliki keterkaitan dengan keseluruhan simbol dalam prosesi.
Daun bingin yang telah diikat kemudian diselempot atau ditempatkan kepada puspolinggo dan selanjutnya berkaitan dengan perti sentana. Tahapan tersebut menjadi bagian dari rangkaian simbolis yang menjelaskan hubungan antara unsur laki-laki dan perempuan.
Filosofi Daun Bingin dalam Simbol Laki-Laki dan Perempuan
Filosofi daun bingin semakin terlihat ketika bentuk dan arah penggunaannya dikaitkan dengan simbol laki-laki dan perempuan.
Pada bagian yang melambangkan perti sentana laki-laki, cara menggunakan atau menjumkan daun bingin digambarkan dengan bentuk melingap. Arah daun tersebut mengarah kepada sekah. Bentuk ini menjadi salah satu bagian dari simbol yang digunakan dalam rangkaian tradisi.
Sementara itu, pada bagian yang berkaitan dengan perempuan terdapat istilah tengkaya. Daun bingin dalam bentuk tengkaya digambarkan dengan arah yang melingkup.
Dua bentuk tersebut memiliki pemaknaan filosofis yang saling berkaitan. Melingap menggambarkan arah tertentu pada unsur laki-laki, sedangkan melingkup pada tengkaya menggambarkan unsur perempuan. Pertemuan kedua simbol tersebut kemudian dimaknai sebagai bagian dari proses penciptaan.
Karena itu, bentuk daun bingin yang digunakan dalam prosesi tidak dipahami sekadar sebagai susunan daun. Arah, bentuk, jumlah, dan cara penempatannya menjadi bagian dari bahasa simbolik dalam tradisi.
Melingap dan Tengkaya sebagai Filosofi Penciptaan
Pertemuan antara konsep melingap dan tengkaya melingkup menjadi bagian penting dalam filosofi daun bingin. Simbol tersebut menggambarkan hubungan antara unsur laki-laki dan perempuan dalam proses penciptaan.
Pemaknaan ini menjelaskan bahwa penggunaan daun bingin memiliki konteks yang lebih luas. Daun tersebut menjadi bagian dari simbol yang menggambarkan hubungan, pertemuan, dan keberlanjutan kehidupan.
Dalam pemahaman tradisi tersebut, bentuk laki-laki yang melingap dan perempuan yang melingkup memiliki fungsi simbolis masing-masing. Ketika kedua bentuk tersebut dipertemukan, terdapat gambaran mengenai proses penciptaan yang menjadi bagian dari filosofi kehidupan.
Pemaknaan semacam ini juga menunjukkan adanya pengetahuan tradisional yang diwariskan melalui praktik dan penjelasan adat. Orang yang mengikuti prosesi tidak hanya berhadapan dengan perlengkapan upacara, tetapi juga dengan simbol yang memiliki arti tertentu dalam pandangan budaya Bali.
Daun Bingin sebagai Bagian dari Pengetahuan Tradisional Bali
Filosofi daun bingin dalam tradisi Bali memperlihatkan bagaimana tumbuhan dapat memperoleh kedudukan khusus dalam kehidupan adat. Pohon bingin dipahami sebagai pohon yang keramat, memiliki hubungan dengan kesejukan, serta berkaitan dengan pitara melalui pemaknaan terhadap bunganya.
Proses nganget, penggunaan 21 helai daun, pengikatan dalam bentuk ngacum, hingga penggunaan bentuk melingap dan tengkaya menunjukkan bahwa setiap tahapan memiliki konteks tersendiri.
Rangkaian tersebut juga memperlihatkan hubungan antara alam, leluhur, manusia, dan proses penciptaan dalam pemahaman tradisional Bali. Daun bingin menjadi salah satu sarana yang menghubungkan unsur-unsur tersebut melalui simbol dan tata cara yang diwariskan.
Pemahaman mengenai filosofi daun bingin karena itu perlu ditempatkan dalam konteks tradisi yang melahirkannya. Maknanya tumbuh dari pengetahuan adat, lontar, praktik ritual, serta penuturan orang-orang yang memahami tata cara tersebut. Nilai tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dipelajari dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Dengan memahami alasan penggunaan daun bingin, jumlah 21 helai, proses ngacum, serta simbol melingap dan tengkaya, rangkaian tradisi tersebut dapat dilihat secara lebih utuh. Daun bingin tidak berdiri sebagai perlengkapan upacara semata, melainkan menjadi bagian dari simbol yang membawa pemaknaan tentang pitara, kesejukan, hubungan laki-laki dan perempuan, serta proses penciptaan dalam pengetahuan tradisional Bali.
***












