
📷ogoh-ogoh sebagai bagian dari tradisi di Bali sebelum Nyepi/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Sebelum ogoh-ogoh diarak keliling desa, terlebih dahulu masyarakat Hindu di Bali melaksanakan ritual mabuwu-buwu yakni proses menetralisir pekarangan rumah.
Mabuwu-buwu sebagai rangkaian penting pada hari Tilem Kasanga. Ritual ini merupakan upaya sistematis untuk menetralisasi energi negatif di lingkungan tempat tinggal.
Pelaksanaan Mabuwu-buwu bertujuan menciptakan keharmonisan agar penghuni rumah memperoleh ketenangan dan kenyamanan hidup.
Landasan Tattwa dan Perhitungan Urip
Guru Nabe Jro Budiarsa menjelaskan bahwa prosedur Mabuwu-buwu berpijak pada tattwa Kanda Empat. Ritual ini berlangsung pada waktu senja, tepat setelah pelaksanaan ritual laba untuk Sang Panca Maha Bhuta.
Secara teknis, Sang Panca Maha Bhuta berada di bawah kendali Sang Kala Raja dengan total urip 41.Angka tersebut merupakan representasi dari urip Panca Aksara (Sa, Ba, Ta, A, I) yang berjumlah 33, kemudian ditambah dengan sastra Ang yang bernilai 8. Akumulasi perhitungannya adalah $5 + 9 + 7 + 4 + 8 + 8 = 41.
Prosesi Pengumpulan Kekuatan Dhurga
Dalam struktur ritualnya, seluruh kekuatan Detya yang berpotensi mengganggu manusia serta manifestasi Dhurga yang memicu hawa panas di pekarangan rumah diundang secara formal. Istilah Dhurga sendiri memiliki akar kata dhur yang berarti api panas dan ga yang bermakna perwujudan.
Tokoh spiritual asal Banjar Tegak Gede, Yeh Embang ini menegaskan bahwa seluruh perwujudan panas tersebut dikeluarkan dari area dalam rumah. Kekuatan-kekuatan ini dikumpulkan di luar area rumah atau di pintu masuk (lebuh) untuk dikendalikan oleh Sang Kala Raja.
Penyatuan Sang Kala Raja dan Sang Kala Bela
Di area merajan, persembahan laba ditujukan kepada Sang Butha Nawa Sanga yang dikendalikan oleh Sang Kala Bela. Proses ini melibatkan urip dari aksara Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya, serta sastra Ah. Total nilai urip pada bagian ini mencapai 67 (5+9+7+4+8+8+3+1+6+8 = 67).
“Setelah prosesi malaba selesai, persembahan tersebut dibawa ke lebuh untuk dipertemukan dengan persembahan yang ada di halaman rumah,” ungkap Jro Budiarsa.
Pertemuan antara Sang Kala Raja (41) dan Sang Kala Bela (67) menghasilkan angka keramat 108. Sebagai simbolisasi sastra, di area lebuh disajikan nasi cacah 108 dengan susunan vertikal yang spesifik:
- Paling atas: 8 tanding (Simbol aksara Ah)
- Lapisan kedua: 67 tanding (Simbol dasaksara)
- Lapisan ketiga: 33 tanding (Simbol panca aksara)
- Paling bawah: 8 tanding (Simbol sastra Ang)
Penyusunan ini menandakan penyatuan kekuatan yang memungkinkan pengendalian penuh terhadap seluruh entitas Bhutakala.
Pembersihan Akhir dan Keheningan Nyepi
Sembari prosesi di catuspata berlangsung, pemilik rumah melakukan pembersihan mandiri menggunakan sarana fisik yang sarat simbolisme:
- Api danyuh: Menyimbolkan proses pembakaran hal negatif.
- Sapu lidi: Simbol pembersihan.
- Kulkul (kentongan): Simbol pemanggilan energi.
- Keplug-keplugan: Simbol membangkitkan kesadaran.
- Mesui: Simbol mengharumkan dan mengusir pengaruh gaib.
Prosesi ini idealnya dilengkapi dengan percikan Tirta Prayascitta atau taburan beras kuning yang telah dipuja dengan doa Panca Sudha Panca Amerta, dilakukan searah jarum jam (prasawya).
Pasca pembakaran Ogoh-ogoh, alam memasuki fase hening. Seluruh kekuatan negatif telah dilebur dan disucikan. Kondisi rumah yang telah “kosong” dari pengaruh negatif ini menjadi landasan bagi umat untuk melaksanakan Catur Brata Panyepian.
Melalui siklus ini, unsur angin, api, sinar, air, dan bumi kembali murni, memungkinkan manusia melakukan refleksi suci pada hari raya Nyepi.
***











