Tayang: Senin, 29 Juni 2026 06:56 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM –  Di tengah modernisasi yang terus bergerak cepat, masyarakat Hindu di Bali tetap teguh menjaga denyut spiritualitas warisan leluhur. Salah satu momentum sakral yang rutin dirayakan setiap tahunnya adalah Purnama Kasa. Lebih dari sekadar rutinitas kalender, hari suci ini menjadi penanda penting bagi umat untuk melakukan pembersihan jiwa (penyucian diri) sekaligus menghormati keseimbangan alam semesta.

Hari raya ini berfokus pada pemujaan kepada Sang Hyang Rwa Bhineda, manifestsasi Tuhan dalam dualitas yang saling melengkapi, yakni Dewa Matahari (Sang Hyang Surya) dan Dewa Bulan (Sang Hyang Candra). Bagi masyarakat setempat, momentum ini adalah waktu terbaik untuk memohon berkah kesucian lahir dan batin.

Menghitung Waktu Berkah di Pertengahan Sasih Kasa

Dalam sistem penanggalan tradisional Bali, Purnama Kasa jatuh pada bulan purnama pertama, tepatnya di pertengahan Sasih Kasa (bulan pertama). Sistem kalender Bali membagi siklus intim antara Purnama (bulan purnama) dan Tilem (bulan mati) yang datang silih berganti.

Dari total 12 Purnama yang bergulir sepanjang tahun, Purnama Kasa menempati posisi hulu sebagai pembuka siklus spiritual yang sangat dihormati oleh umat Hindu Bali.

Filosofi Mendalam di Balik Lontar Sundarigama

Dasar teologis dari perayaan ini tertuang jelas dalam kitab suci Lontar Sundarigama. Di dalam susastra kuno tersebut, dijelaskan bahwa saat purnama tiba, Dewa Bulan atau Sang Hyang Ulan sedang berada dalam posisi mayoga (bersemadi memberikan anugerah kesucian). Sebaliknya, saat Tilem tiba, giliran Dewa Matahari yang beryoga.

Mwah hana pareresiknira sang hyang rwa bhineda, makadi sang hyang surya candra, yatika nengken purnama mwang tilem, ring purnama sang hyang ulan mayoga, yan ring tilem sang hyang surya mayoga. Samana ika sang purohita, tkeng janma pada sakawanganya, wnang mahening ajnana, aturakna wangi-wangi, canang nyasa maring sarwa dewa, pamalakunya, ring sanggat parhyangan, laju matirta gocara, puspa wangi.

Artinya:
Hari suci Purnama dan Tilem adalah waktu untuk menyucikan diri kepada Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu Dewa Matahari dan Dewa Bulan. Pada hari Purnama, Sang Hyang Ulan (Candra) berada dalam posisi mayoga, sedangkan pada Tilem, Sang Hyang Surya beryoga. Saat Purnama, umat melakukan penyucian diri secara lahir batin, menghaturkan persembahan berupa canang wangi-wangi dan canang yasa kepada para dewa, serta melaksanakan persembahyangan di sanggah (merajan) dan parhyangan. Setelah itu, umat memohon tirta atau air suci sebagai bagian dari ritual.

Tata Cara dan Ritual Pelaksanaan Purnama Kasa

Bagi Anda yang ingin memahami bagaimana umat Hindu di Bali merayakan hari suci ini, berikut adalah tahapan ritual yang mengalir penuh khidmat:

  • Persiapan Banten (Sesajen): Umat akan menyiapkan sarana upakara, utamanya berupa canang wangi-wangi dan canang yasa sebagai simbol ketulusan hati dan keindahan rasa syukur.
  • Persembahyangan Bersama: Ritual doa dilakukan secara bertingkat, dimulai dari lingkup terkkecil di sanggah keluarga hingga pura besar (parhyangan).
  • Tradisi Melukat: Tidak jarang, momen ini dimanfaatkan umat untuk melakukan ritual melukat, yaitu mandi pembersihan diri di sumber mata air alam atau pantai terdekat, guna menghanyutkan kekotoran batin dan energi negatif.
  • Nunas Tirta: Di penghujung doa, umat akan memohon tirta (air suci). Air ini diyakini membawa vibrasi kesembuhan, kedamaian, dan keberkahan hidup.

Esensi Purnama dalam Kehidupan Modern

Pada akhirnya, Purnama Kasa mengajarkan esensi yang sangat relevan dengan kehidupan modern: menjaga harmoni. Kehadiran matahari dan bulan adalah pengingat visual tentang keseimbangan alam semesta yang wajib dijaga.

Melalui persembahan yang tulus dan ritual penyucian diri, masyarakat Hindu Bali tidak hanya merawat tradisi para leluhur, tetapi juga memperbarui komitmen spiritual mereka untuk menjalani hidup dengan hati yang bersih, ikhlas, dan selaras dengan alam.

***

Tanya AI