Tayang: Kamis, 19 Februari 2026 05:58 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Desa Selat di Kecamatan Sukasada, Buleleng, tidak hanya masyhur dengan tradisi naur penempuh. Di balik rimbunnya hutan desa, terdapat sebuah situs pemujaan unik berupa batu besar yang menyerupai tempat tidur. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Pelinggih Batu Kasur, sebuah tempat yang disakralkan sebagai peristirahatan Ida Bhatara Dalem.

Lokasi dan Karakteristik Situs

Menemukan keberadaan Pelinggih Batu Kasur tergolong mudah. Situs ini terletak tepat di tikungan jalur Desa Selat-Wanagiri, sekitar 1 kilometer dari pusat desa. Berada di ketinggian 300 meter di atas permukaan laut (mdpl), lokasi ini berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Singaraja dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit.

Berbeda dengan pelinggih pada umumnya yang memiliki struktur bangunan permanen, Pelinggih Batu Kasur tampil dalam bentuk bebaturan. Penandanya adalah sebuah batu alam raksasa berdiameter 2 meter yang diselimuti kain poleng dan dipayungi tedung berwarna putih kuning. Vibrasi spiritual di tempat ini terasa sangat kuat, didukung oleh lokasinya yang berada di area hutan asri dan tumpukan sesaji canang sari dari para pemedek (umat yang bersembahyang).

Mitologi Ida Bhatara Dalem Tamblingan

Keberadaan batu ini memiliki akar sejarah dan mitologi yang kuat dalam ingatan kolektif krama Desa Selat. Pemangku Pura Desa Selat, Jro Mangku Ketut Jasi, menjelaskan bahwa situs tersebut merupakan petilasan Ida Bhatara Dalem Tamblingan saat menempuh perjalanan bersama tiga pengawalnya: I Bendesa, I Pasek, dan I Kubayan.

“Ketika hari mulai gelap, Beliau memilih beristirahat di tempat ini. Ida Bhatara Dalem Tamblingan kemudian memerintahkan I Bendesa, yang dikenal paling sakti, untuk mengubah batu besar di sana menjadi tempat tidur yang menyerupai kasur,” ujar Jro Mangku Ketut Jasi.

Sejak peristiwa itulah, batu tersebut diyakini sebagai tempat peraduan suci. Masyarakat dilarang keras menaiki batu tersebut secara sembarangan guna menjaga kesucian singgasana niskala sang dewa.

Aturan dan Pantangan bagi Pemedek

Meskipun tidak memiliki struktur mandala atau tembok penyengker layaknya pura besar, aturan adat tetap diberlakukan secara ketat. Pengunjung atau pemedek yang sedang dalam kondisi cuntaka (sebel), seperti perempuan yang sedang datang bulan atau warga yang sedang berduka, dilarang keras melakukan persembahyangan di area ini.

Bagi pengendara yang melintas di jalur utama depan pelinggih, terdapat tradisi unik yang tetap lestari hingga kini. Pengguna jalan disarankan membunyikan klakson sebagai bentuk izin melintas.

“Pemedek atau pengendara juga disarankan untuk ngojah atau menyebut nama Ida Bhatara Dalem Tamblingan dalam hati agar diberikan keselamatan selama perjalanan,” tambah pria berusia 58 tahun tersebut.

Penjaga Gaib dan Tempat Memohon Berkah

Keyakinan lokal menyebutkan bahwa Pelinggih Batu Kasur dijaga oleh tiga sosok astral berwujud kera, harimau, dan ular. Salah satu yang paling fenomenal dalam kesaksian warga adalah sosok ular berkepala manusia. Makhluk ini diyakini sebagai ancangan (penjaga) yang memiliki wujud manusia dari pinggang ke atas dan berwujud ular pada bagian bawah.

Selain sebagai tempat pemujaan saat hari suci seperti Purnama, Tilem, Galungan, dan Kuningan, banyak warga yang datang untuk memohon berkat khusus. Mulai dari memohon kelimpahan hasil panen cengkeh hingga kesembuhan dari penyakit.

“Banyak masyarakat yang mesesangi (berjanji/bernazar) di sini. Karena banyak yang permohonannya terkabul, mereka kembali lagi untuk membayar kaul sebagai bentuk syukur atas kesidhian (kemanjuran) Beliau,” pungkas Jro Mangku Ketut Jasi.

***

Tanya AI