📷Ilustrasi umat Hindu tengah berjalan di atanra Penjor Galungan/ ortibali
Penulis: Putu Wisnu | Editor: Febrianti Saraswati
ORTIBALI.COM – Umat Hindu di Bali kembali memperingati hari suci Buda Wage Ukir, sebuah rahinan yang hadir setiap 210 hari sekali berdasarkan perhitungan kalender Bali. Hari ini merupakan momen istimewa yang menggabungkan Saptawara Buda, Pancawara Wage, dan Wuku Ukir, menciptakan waktu sakral untuk pemujaan dan introspeksi.
Siapa yang Dipuja pada Buda Wage Ukir?
Pada hari suci ini, umat Hindu melaksanakan persembahyangan mulai dari lingkup keluarga hingga ke pura atau parahyangan. Pemujaan utama ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Laksmi, yang dikenal sebagai sakti dari Dewa Wisnu.
Dalam kepercayaan Hindu, Dewi Laksmi melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, dan kesuburan, menjadikan hari ini sangat bermakna, terutama bagi umat yang berprofesi sebagai pedagang.
Persembahyangan dilakukan dengan penuh kekhusyukan, sebagai wujud penghormatan dan doa untuk keberkahan hidup. Bagi para pedagang, momen ini sering dimanfaatkan untuk memperdalam koneksi spiritual dalam memohon kelancaran usaha.
Sarana Upacara Buda Wage Ukir
Untuk melaksanakan upacara Buda Wage Ukir, umat Hindu umumnya menggunakan sarana sederhana seperti canang sari. Dalam beberapa kasus, pejati juga dapat digunakan, tergantung pada tradisi lokal dan kemampuan masing-masing individu. Sesuai prinsip desa kala patra (penyesuaian dengan tempat, waktu, dan keadaan), sarana upacara disesuaikan agar tetap relevan dan sesuai dengan kondisi umat.
Makna Renungan Suci di Buda Wage Ukir
Selain sebagai waktu untuk memuja Dewi Laksmi, Buda Wage Ukir juga menjadi momen ideal untuk melakukan renungan suci. Hari ini dianggap kurang tepat untuk melakukan aktivitas yang berkaitan dengan pengeluaran uang, seperti membayar utang, karena fokusnya adalah pada penyucian batin dan spiritual.
Menurut Lontar Sundarigama, Buda Wage Ukir memiliki makna mendalam:
Buda waga, ngaraning Buda Cemeng, kalingania adnyana suksema pegating indria, betari manik galih sira mayoga, nurunaken Sang Hyang Ongkara mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawakna ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala.
Berdasarkan terjemahan Parisada Hindu Darma Kabupaten Tabanan (1976), esensi Buda Wage Ukir adalah untuk mencapai kesucian pikiran dengan memutus sifat-sifat duniawi yang bersifat hewani. Hari ini mengajak umat untuk menyelami yoga spiritual melalui pemujaan kepada Bhatari Manik Galih, dengan menurunkan Sang Hyang Omkara Amrta, simbol inti kehidupan yang suci, di luar ruang lingkup dunia material.
Upacara dilakukan dengan sarana wangi-wangian, memuja di sanggar dan tempat tidur, serta menghaturkan persembahan kepada Sang Hyang Çri. Malam harinya, umat dianjurkan untuk melakukan semadi atau renungan suci guna memperdalam koneksi spiritual.
Mengapa Buda Wage Ukir Penting?
Buda Wage Ukir bukan sekadar hari suci, tetapi juga pengingat bagi umat Hindu untuk menyeimbangkan kehidupan material dan spiritual. Dengan memuja Dewi Laksmi dan melakukan renungan, umat diajak untuk merenungi makna kemakmuran sejati yang tidak hanya terbatas pada harta, tetapi juga kedamaian batin.
Hari suci ini, yang hadir setiap 210 hari, menjadi kesempatan untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Dengan persembahan sederhana dan hati yang tulus, Buda Wage Ukir mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara skala dan niskala.
***












