Tayang: Sabtu, 23 Agustus 2025 05:51 WITA
Penulis: Febrianti Saraswati | Editor: Orti Bali

ORTIBALI.COM –  Dalam tradisi Hindu Bali, banten bukan sekadar persembahan, melainkan jembatan spiritual yang menghubungkan umat dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Sang Pencipta. Banten mencerminkan rasa syukur, cinta, dan bakti atas anugerah yang diberikan.

Lebih dari itu, banten menjadi bahasa agama, menyampaikan ajaran suci Veda melalui simbol-simbol yang kaya makna. Bagaimana banten menjadi cerminan pemikiran tulus dan suci? Mari kita telusuri lebih dalam.

Banten: Bahasa Simbolis Ajaran Veda

Ajaran Veda, sebagai sabda suci Tuhan, disampaikan dalam berbagai bentuk bahasa, mulai dari tulisan Sanskerta dalam kitab Veda Samhita hingga lisan dalam bahasa Jawa Kuno atau Bali. Namun, ada pula bahasa “Mona” yang berarti diam namun penuh makna, dan inilah yang diwujudkan melalui banten. Menurut Lontar Yajña PrakrtI, banten adalah simbol diri manusia, kemahakuasaan Hyang Widhi, dan alam semesta (Bhuana Agung). Sementara Lontar Tegesing Sarwa Banten menyebut banten sebagai buah pemikiran yang lengkap dan bersih.

Bayangkan banten sebagai karya seni spiritual. Setiap elemen, dari tata cara pembuatan hingga susunannya, mencerminkan ketulusan hati. Bentuknya yang indah, rapi, dan unik mengandung nilai filosofis mendalam, menyampaikan rasa bhakti dan kasih kepada Sang Pencipta. Apa saja makna di balik susunan banten ini?

Segehan: Persembahan Sederhana dengan Makna Mendalam

Segehan adalah salah satu bentuk banten yang digunakan dalam upacara Bhuta Yadnya, terutama pada hari-hari suci seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, Pagerwesi, atau Saraswati. Segehan dihaturkan untuk Bhuta Bucari, Kala Bhucari, dan Durga Bhucari di lingkungan rumah, sebagai wujud harmoni dengan alam.

Jenis-Jenis Segehan

  1. Segehan Kepel
    Menggunakan alas taledan dari daun pisang, diisi dua kepel nasi putih, bawang, jahe, dan garam, lalu dilengkapi dengan canang genten. Warna nasi bisa disesuaikan—putih, kuning, atau empat warna (hitam, merah, putih, kuning)—sesuai tujuan upacara.

  2. Segehan Cacahan
    Alasnya juga taledan, berisi 6-7 tangkih. Lima tangkih diisi nasi putih, satu tangkih berisi bijaratus (lima jenis biji-bijian seperti jagung, jawa, godem, dan jali), serta satu tangkih berisi beras, benang putih, dan uang kepeng. Lauknya bawang, jahe, dan garam, dilengkapi canang genten.

  3. Segehan Agung
    Menggunakan tempeh besar sebagai alas, berisi 11 atau 33 tangkih nasi putih dengan lauk bawang, jahe, dan garam. Dilengkapi daksina (tanpa bakul dan kelapa yang dikupas bersih), canang payasan, serta 11 atau 33 canang genten dengan jinah sandangan. Upacara ini sering menyertakan penyamblehan hewan kecil yang masih hidup, seperti ayam atau babi, untuk upacara besar seperti pengukuran tempat suci atau peletakan batu pertama.

Banten Pejati: Simbol Kesungguhan Hati

Banten Pejati, berasal dari kata “jati” yang berarti sungguh-sungguh, adalah persembahan yang menegaskan ketulusan dalam melaksanakan upacara. Banten ini digunakan dalam Panca Yadnya, saat memasuki tempat suci, memohon jasa pemangku atau pedanda, hingga melengkapi berbagai upakara. Pejati menjadi banten utama yang bisa dihaturkan di mana saja.

Unsur-Unsur Banten Pejati

Banten Pejati terdiri dari beberapa elemen, masing-masing dengan makna filosofis:

  • Daksina: Melambangkan Sanghyang Brahma, berisi bakul (simbol arda candra), kelapa (simbol Brahma dan nada), telur bebek (simbol windu dan satyam), dan benang putih (simbol Siwa).

  • Peras: Dihaturkan untuk Sanghyang Isvara, berisi nasi, raka-raka (jaja dan buah-buahan), dan canang.

  • Ketupat Kelanan: Melambangkan Sanghyang Visnu, menggambarkan pengendalian Sad Ripu (enam musuh dalam diri) untuk mencapai keseimbangan hidup.

  • Ajuman/Sodaan: Dihaturkan untuk Sanghyang Mahadeva, berisi nasi penek dan rerasmen seperti kacang saur.

  • Penyeneng: Tiga kojong janur berisi beras, tepung tawar, dan bunga, melambangkan kesucian.

  • Pesucian: Berisi boreh miik, irisan pandan, dan jeruk nipis untuk pembersihan spiritual.

Makna Filosofis Banten Pejati

Menurut Lontar Tegesing Sarwa Banten, setiap bahan dalam banten memiliki makna:

  • Kacang-kacangan: Menyatukan perasaan.

  • Ulam/ikan: Melambangkan tutur kata yang baik.

  • Buah-buahan: Mewakili perbuatan baik (Tri Kaya Parisudha) yang menerangi kehidupan.

  • Jajan/kue: Seperti wajik (kesenangan belajar sastra) atau dodol (pikiran setia).

  • Porosan (sirih-pinang): Simbol kesejahteraan dan keharmonisan dalam keluarga atau komunitas.

Daksina Linggih dan Sesayut Pengambian

Daksina Linggih adalah daksina khusus sebagai simbol “pelinggihan Ida Bhatara”, tanpa tegteg, peras, atau ajuman. Telur diganti dengan tingkih, dan wakul serembeng dibungkus kain putih-kuning, melambangkan stana Sanghyang Widhi. Sementara Sesayut Pengambian terdiri dari pengambian (permohonan kehadiran Ista Dewata), dapetan (anugerah Hyang Widhi), peras, dan sodaan, menegaskan bhakti dalam upacara.

Mengapa Banten Penting?

Banten bukan hanya sekumpulan bahan, tetapi cerminan pemikiran suci dan tulus. Melalui simbol-simbolnya, banten mengajarkan umat Hindu Bali untuk hidup selaras dengan alam, menjaga kesucian hati, dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta. Dengan memahami makna banten, umat Hindu dapat menjalankan ajaran agama dengan penuh kesadaran, mengikis dogma, dan memperkuat keyakinan spiritual.  Demikian pula terkait banten dan doa tetap menyesuaikan dengan desa kala patra.

***

Tanya AI