Tayang: Selasa, 2 Desember 2025 09:51 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM –  Setiap Purnama Kanem hari suci ini jatuh tepat pada bulan keenam menurut penanggalan Bali atau sasih kanem, sekaligus menjadi momen penting dalam kalender Hindu Bali untuk menyucikan diri lahir dan batin.

Purnama sendiri dirayakan setiap bulan pada fase purnama atau sukla paksa. Dalam tradisi Bali, hari ini disebut sebagai “payogan” Sang Hyang Candra, tempat Dewa Bulan bersemayam dan melakukan yoga spiritual. Lontar Sundarigama dengan tegas menyebut purnama dan tilem (bulan mati) sebagai hari penyucian bagi Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu pasangan Matahari dan Bulan yang melambangkan keseimbangan alam semesta.

“Pada purnama, Sang Hyang Wulan (Candra) yang beryoga. Pada tilem, giliran Sang Hyang Surya,” demikian bunyi petikan lontar kuno tersebut.

Karena itu, Purnama Kanem menjadi hari wajib bagi seluruh umat untuk melakukan persembahan dan pembersihan diri. Ritual dimulai dengan mempersembahkan canang wangi-wangi dan canang nyasa di sanggah kemulan serta merajan keluarga, dilanjutkan memohon tirtha (air suci) dari purohita atau pemangku.

Sedekah Tanpa Mengharap Balas

Selain penyucian diri, Purnama Kanem juga dianggap hari istimewa untuk dana punia atau sedekah. Dalam sloka Sarasamuscaya 170, sedekah didefinisikan sebagai sikap tidak iri hati dan keteguhan menjalankan dharma. “Jika dilakukan terus-menerus, keselamatan akan selalu menyertai, sama nilainya dengan pahala yang berlimpah,” tulis sloka itu.

Namun, para rsi dan pandita di Bali menekankan bahwa sedekah terbaik justru dilakukan tanpa memikirkan imbalan. “Laksanakan saja, ada phala atau tidak, tetap berikan,” ujar Ida Pedanda Gede Made Gunung, salah satu sulinggih terkemuka di Gianyar, saat ditemui di griya-nya pekan lalu.

Pandangan ini selaras dengan ajaran Bhagawad Gita XVII.25 yang menyatakan bahwa yadnya, tapa, dan dana punia yang dilakukan tanpa pamrih akan membawa pelaku menuju moksa.

Ritual Sederhana yang Sarat Makna

Di berbagai pura kahyangan jagat maupun pura keluarga se-Bali, suasana purnama selalu ramai. Umat mengenakan baju adat, membawa banten lengkap, dan larut dalam doa. Bagi masyarakat Bali, momen ini bukan sekadar kewajiban agama, melainkan kesempatan mereset hati dan pikiran di tengah rutinitas sehari-hari.

“Purnama Kanem mengingatkan kita bahwa penyucian diri lahir batin harus rutin dilakukan, sama seperti bulan yang selalu kembali penuh setelah gelap,” kata Jero Mangku Ketut Subagiasta dari Puri Agung Denpasar.

Di era modern saat ini, tradisi Purnama Kanem tetap hidup kuat. Bahkan generasi muda banyak yang aktif mengikuti upacara, membawa canang buatan sendiri, dan mengunggah momen suci tersebut di media sosial dengan tagar #PurnamaKanem #HinduBali #DanaPunia.

Hari penuh bulan di sasih keenam ini sekali lagi membuktikan bahwa kearifan lokal Bali mampu bertahan dan relevan di tengah perubahan zaman, sekaligus menjadi pengingat abadi akan pentingnya hidup suci dan berbagi tanpa syarat.

***

Cek Usiamu Dulu Ya...

Anda harus sudah cukup umur untuk mengakses situs ini.

PERINGATAN: Situs web ini berisi konten yang dibatasi berdasarkan usia.

đź’¬ Tanya AI