📷ilustrasi/ ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM – Di tengah kehidupan spiritual yang kental dengan nilai-nilai luhur, sebuah pertanyaan muncul dan menggugah: bolehkah seorang sulinggih hamil atau menghamili? Sekilas, pertanyaan ini mungkin terdengar tidak biasa, bahkan provokatif.
Namun, di baliknya tersimpan makna mendalam tentang komitmen spiritual, kesucian, dan pengabdian seorang sulinggih dalam tradisi Hindu Bali. Terlebih beberapa kali sosial media diwarnai tentang viralnya seorang sulinggih yang diduga hamil lagi hingga diduga masih terlibat akan duniawi.
Seorang sulinggih bukan sekadar manusia biasa. Ia adalah pribadi yang telah melalui proses madiksa, sebuah upacara suci yang menandakan kelahiran kembali sebagai duwi/putra Sang Hyang Paramasiwa. Dalam sastra suci Hindu, setelah madiksa, seorang sulinggih tidak lagi terikat pada urusan duniawi. Hidupnya sepenuhnya dipersembahkan untuk menjalankan dharma dan melayani umat secara spiritual.
Lontar Wiku Sasana dengan tegas menyatakan, “Ya wiku mangkana, tan wengis ring grhesta karma,” yang berarti seorang wiku atau sulinggih tidak boleh lagi terlibat dalam urusan rumah tangga, apalagi terjerat oleh nafsu, amarah, atau keserakahan. Kesucian seorang sulinggih tercermin dalam perbuatan, perkataan, dan pikiran yang murni.
Lebih lanjut, Dwijati Tattwa menegaskan bahwa seorang sulinggih “tan dadi suami, tan dadi istri, nanging dadi putra Sang Hyang Paramasiwa ring Prabhavadiksa.” Artinya, seorang sulinggih tidak lagi berperan sebagai suami atau istri, melainkan menjadi perwujudan kesucian itu sendiri. Status ini menempatkan mereka pada posisi yang transenden, di mana kehidupan pribadi dan duniawi ditinggalkan demi pengabdian yang lebih tinggi.
Lantas, bagaimana jika seorang sulinggih hamil atau menghamili? Ini bukan sekadar pelanggaran moral, melainkan tulah ring diksa, sebuah pengkhianatan terhadap janji suci yang telah diikrarkan.
Pelanggaran ini merusak kukur/kesucian spiritual yang menjadi inti dari peran seorang sulinggih. Ini bukan soal menghakimi, tetapi tentang menjaga integritas spiritual yang menjadi panutan bagi umat. Seorang sulinggih adalah cerminan sujati/kesucian sejati, yang lahir dari tapa/pengekangan diri tanpa pamrih, kesucian tanpa pretensi, dan bakti tanpa batas.
Pertanyaan ini mengajak kita merenung lebih dalam tentang makna pengabdian dan tanggung jawab spiritual. Dalam tradisi Hindu Bali, sulinggih adalah pilar yang menjaga harmoni antara manusia dan alam semesta.
Mereka bukan hanya pemimpin ritual, tetapi juga teladan hidup yang menginspirasi umat untuk menjalani dharma dengan penuh kesadaran. Dari sinilah kita belajar bahwa kesucian sejati tidak hanya tentang menahan diri dari godaan duniawi, tetapi juga tentang menjalani hidup dengan penuh keikhlasan dan kebersihan hati.
Sebagai penutup, kisah ini bukan sekadar tentang aturan atau larangan, melainkan tentang bagaimana seorang sulinggih membawa cahaya spiritual bagi umat. Dalam setiap langkah dan keputusan, mereka mengajarkan bahwa dharma adalah jalan menuju kebenaran, dan kesucian adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi pelayan sejati Sang Hyang Widi.




