🔥 Tag Populer 24 Jam

balihinduramalantenungweton

🕒 Pencarian Terakhir

🔍
[menu_topik_slider]
Tayang: Senin, 27 April 2026 10:19 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Penampilan para pemuka agama atau sulinggih di Bali selalu menjadi perhatian yang menarik untuk diulas. Salah satu aspek yang paling menonjol adalah tata busana mereka. Pakaian yang dikenakan oleh para pendeta ini memiliki perbedaan mendasar dengan busana masyarakat umum atau golongan walaka. Perbedaan ini terlihat jelas saat para sulinggih sedang melaksanakan pemujaan atau mapuja dalam sebuah upacara suci.

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti memaparkan bahwa sejak periode sebelum tahun 1960-an, penutup kepala yang disebut bawa atau ketu (gelungan pendeta) terdiri atas dua jenis utama. Beliau menjelaskan bahwa untuk Ida Pedanda dari garis Siwa serta Ida Rsi Bhujangga Waisnawa, mereka mengenakan ketu berbentuk bundar. Bentuk bulat panjang dengan ornamen sederhana ini merupakan simbol dari Lingga.

Sementara itu, untuk Ida Pedanda Budha, gelungan yang digunakan memiliki karakteristik yang berbeda. Penutup kepala tersebut dihiasi ornamen megah yang menyerupai mahkota tokoh Rama dalam kisah epos Ramayana. Perbedaan bentuk gelungan inilah yang menjadi identitas visual saat para sulinggih muput atau memimpin upacara di tengah masyarakat.

Filosofi Warna Ketu dan Masa Jabatan Kerohanian

Dalam tradisi keluarga Bhujangga Waisnawa, warna ketu memiliki tatanan dan aturan tersendiri yang menunjukkan tingkat senioritas seorang sulinggih:

  • Warna Hitam: Umumnya digunakan oleh sulinggih yang baru menempuh jalan kesucian atau baru madiksa. Warna ini dipakai sejak tahun pertama hingga masa lima tahun atau lebih. Namun, Ida Rsi mencatat bahwa banyak sulinggih yang tetap memilih menggunakan ketu hitam meskipun sudah menjalani masa kesulinggihan selama puluhan tahun.
  • Warna Merah: Biasanya dikenakan oleh mereka yang telah melewati masa madiksa lebih dari lima tahun.
  • Warna Putih: Warna ini memiliki kedudukan paling khusus. Hanya sulinggih yang sudah berstatus sebagai Nabe atau Nabe Napak yang diizinkan mengenakan ketu putih. Status ini diberikan kepada pendeta yang telah memiliki murid atau telah “melahirkan” nanak (siswa spiritual).

Ida Rsi yang juga pensiunan dosen UNHI ini menambahkan, saat ini muncul berbagai bentuk bawa dengan hiasan yang sangat megah. Namun, beliau mengaku tidak mengetahui secara pasti apa makna sesungguhnya di balik ornamen-ornamen baru yang sangat mencolok tersebut.

Tanggung Jawab Berat Menjadi Seorang Guru Nabe

Menjadi seorang Nabe atau guru dari para sulinggih bukanlah perkara mudah. Jabatan ini memikul tanggung jawab moral dan spiritual yang sangat besar. Ida Rsi menegaskan bahwa syarat untuk diangkat menjadi guru Nabe sangatlah ketat dan memerlukan kualifikasi yang mendalam.

Syarat utama bagi calon Nabe adalah senioritas dalam malinggih atau madiksa. Rekam jejak mereka dalam memimpin upacara harus sudah sangat luas, mencakup pengalaman dalam berbagai situasi suka maupun duka. Selain itu, seorang calon Nabe wajib menguasai ilmu pengetahuan kesulinggihan yang mumpuni.

Kriteria penting lainnya meliputi:

  1. Pemahaman Ritual: Memahami secara mendalam arti, fungsi, serta makna dari setiap upacara dan upakara (bebantenan) yang ada di Bali.
  2. Filsafat Ketuhanan: Memiliki pengetahuan mendalam mengenai hakekat ketuhanan atau Brahma Widya.
  3. Kualitas Personal: Sulinggih tersebut harus berhati bersih, jujur, memegang teguh ucapan (satya wacana), dan tidak menyakiti sesama (ahimsa).
  4. Praktik Spiritual: Wajib menerapkan nilai-nilai Trikaya Parisudha (berpikir, berkata, dan berbuat yang benar) secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Satu prinsip yang paling krusial dalam tradisi ini adalah seorang Nabe dilarang mencari murid. Sebaliknya, calon siswa atau nanak yang harus datang mencari dan memohon kepada calon Nabe. Ida Rsi memberikan istilah Nabe Metanja bagi mereka yang aktif mencari murid sendiri, yang secara etika dianggap kurang tepat.

Seorang Nabe juga memiliki hak penuh untuk menolak calon siswa apabila merasa tidak berkenan dengan rekam jejak orang tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa menjadi guru Nabe memerlukan kematangan yang utuh, baik dari segi usia maupun kedalaman ilmu pengetahuan spiritual.

Terkait berapa lama seorang sulinggih “naik tingkat” atau bisa menjadi seorang nabe, menurut beberupa sumber yang dirangkum, hanya nabe yang bersangkutanlah yang bisa menentukan itu semua. Ini bidang kesulinggihan, tidak ada aturan dari welaka. Karena setiap sulinggih ditanggungjawabi oleh nabe masing.

Juga menyebutkan bahwa hanya nabe-lah yang bisa menentukan semua itu. Kelayakan hanya ditentukan oleh nabe. Durasi. Waktu. Jenjang. Semua ditentukan nabe.

***

Tanya AI