🔥 Tag Populer 24 Jam

balihinduramalantenungweton

🕒 Pencarian Terakhir

🔍
[menu_topik_slider]
Tayang: Selasa, 13 Januari 2026 14:11 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Bali kembali memasuki momentum rahinan yang sarat makna spiritual. Kali ini, Anggara Kasih Tambir hadir bersamaan dengan Kajeng Kliwon Uwudan. Pertemuan dua hari suci ini menjadi perhatian umat Hindu karena dipercaya membawa energi penyucian dan keharmonisan yang lebih kuat dibandingkan rahinan pada umumnya.

Dalam kalender Hindu Bali, Anggara Kasih Tambir dan Kajeng Kliwon merupakan hari suci yang memiliki landasan wariga dan makna filosofis mendalam. Meski jatuh pada hari yang sama, keduanya tetap memiliki fungsi, tata cara, dan penekanan spiritual yang berbeda. Pelaksanaannya pun disesuaikan dengan prinsip desa, kala, patra, serta kemampuan masing-masing umat.

Makna Anggara Kasih Tambir dan Kajeng Kliwon

Anggara Kasih dikenal sebagai hari pemuliaan kasih sayang. Rahinan ini terjadi saat Saptawara Anggara (Selasa) bertemu dengan Pancawara Kliwon. Dalam ajaran Hindu Bali, Anggara Kasih dimaknai sebagai waktu penyucian alam semesta melalui yoga Sang Hyang Ludra. Umat memaknainya sebagai hari untuk menumbuhkan welas asih terhadap diri sendiri, sesama manusia, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sementara itu, Kajeng Kliwon datang setiap 15 hari sekali, ditandai dengan pertemuan Triwara Kajeng dan Pancawara Kliwon. Hari ini dikenal sebagai salah satu rahinan yang bersifat keramat. Berdasarkan lontar dan pustaka wariga, Kajeng Kliwon dipercaya sebagai waktu Sang Hyang Siwa melakukan yoga semadi. Dalam buku Pokok-pokok Wariga karya I. B. Suparta Ardhana, Kajeng Kliwon Uwudan disebut sebagai hari dengan kekuatan spiritual yang tinggi, sehingga lebih diarahkan pada upaya penyucian dan pengendalian diri.

Rangkaian Upacara dan Persembahan

Kajeng Kliwon memiliki tata upacara khas yang masih dijalankan hingga kini. Mengacu pada Lontar Sundarigama, umat Hindu dianjurkan mempersembahkan sarana upacara di tempat-tempat suci rumah, seperti merajan atau sanggah. Persembahan wewangian juga diletakkan di tempat tidur sebagai simbol perlindungan diri.

Selain itu, disiapkan segehan kepel dua yang ditempatkan pada tiga titik utama, yakni halaman merajan untuk Sang Bhuta Bhucari, pintu utama rumah untuk Sang Durga Bhucari, serta halaman rumah untuk Sang Kala Bhucari. Di setiap lokasi tersebut juga dilengkapi telung tanding yang berisi bawang, jahe, dan segehan sederhana sebagai simbol penetralisir kekuatan niskala.

Pada Kajeng Kliwon tertentu, lontar menyebutkan adanya tambahan segehan lima warna dalam lima tanding. Persembahan ini disertai canang lenga wangi, burat wangi, serta canang gantal yang ditujukan kepada Dewi Durga, Sang Kala Bhucari, dan Sang Bhuta Bhucari. Tujuan utamanya menjaga keseimbangan pekarangan rumah, memohon keselamatan, serta ketenteraman keluarga.

Pertemuan Energi Spiritual

Pertemuan Anggara Kasih Tambir dengan Kajeng Kliwon Uwudan dipandang sebagai hari dengan intensitas spiritual yang tinggi. Anggara Kasih Tambir sendiri merupakan perpaduan Saptawara Anggara, Pancawara Kliwon, dan Triwara Kajeng. Kombinasi ini menghadirkan nilai kasih sayang, penyucian, serta pengendalian energi negatif secara bersamaan.

Umat Hindu memanfaatkan rahinan ini untuk memperdalam bhakti, menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan, serta melakukan pembersihan lahir dan batin. Upacara yang dilaksanakan mencerminkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sejalan dengan konsep Tri Hita Karana yang menjadi landasan hidup masyarakat Bali.

Menjaga Tradisi sebagai Warisan Spiritual

Anggara Kasih dan Kajeng Kliwon menjadi pengingat pentingnya menjaga tradisi dan nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pelaksanaan rahinan sesuai ajaran dan warisan leluhur, umat Hindu di Bali meyakini terciptanya kedamaian, perlindungan, serta kesejahteraan lahir dan batin.

Di tengah dinamika zaman, tradisi ini tetap hidup sebagai wujud kearifan lokal Bali yang sarat filosofi. Anggara Kasih Tambir dan Kajeng Kliwon Uwudan tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga penopang harmoni sosial dan spiritual umat Hindu hingga saat ini.

***

Tanya AI