🔥 Tag Populer 24 Jam

balihinduramalantenungweton

🕒 Pencarian Terakhir

🔍
[menu_topik_slider]
Tayang: Jumat, 17 April 2026 14:36 WITA
Penulis: Orti Bali

ORTIBALI.COM – Hari Raya Tumpek Landep merupakan momentum sakral bagi umat Hindu untuk mengupacarai alat-alat yang menunjang kehidupan manusia. Rahinan ini datang setiap Saniscara Kliwon Wuku Landep dan fokus utama ritual ini tertuju pada benda-benda tajam, keris, pusaka, hingga perangkat modern seperti sepeda motor dan mobil.

Upacara ini menjadi simbol permohonan kepada Sang Hyang Pasupati agar memberikan ketajaman pikiran dan fungsi optimal pada alat-alat tersebut.

Dalam situasi tertentu, kita mungkin menghadapi keterbatasan untuk menghadirkan seorang Jero Mangku guna memimpin upacara. Namun, tradisi memberikan ruang bagi kepala keluarga atau sosok yang dituakan untuk menjalankan prosesi ini secara mandiri di rumah.

Persiapan Sarana Upakara

Keberhasilan upacara diawali dengan penyiapan sarana yang lengkap. Umat perlu menyiapkan Banten Pejati sebagai dasar upakara. Apabila memiliki kemampuan lebih, penambahan Sesayut Pasupati sangat disarankan untuk memperkuat makna pemujaan.

Komponen krusial lainnya adalah tirta atau air suci yang diperoleh dari kemulan, yakni Tirta Penglukatan dan Tirta Pasupati. Jangan lupakan penyajian Segehan sederhana, Manca Warna, serta Arak Berem sebagai pelengkap ritual.

Tahapan Pelaksanaan Ritual

Prosesi dimulai dengan duduk bersama seluruh anggota keluarga dengan posisi menghadap ke arah utara atau timur. Semua benda yang akan diupacarai, seperti keris, pusaka, dan alat-alat penunjang kehidupan lainnya, ditata dengan rapi di atas meja. Setelah semua banten siap, keluarga melakukan doa Trisandya secara bersama-sama untuk menciptakan suasana khidmat.

Langkah-langkah teknis upacara dilakukan sebagai berikut:

  1. Penyulutan Dupa: Sosok yang memimpin upacara menyalakan dupa dan meletakkannya di atas banten.
  2. Percikan Tirta Penglukatan: Percikkan Tirta Penglukatan pada banten, benda-benda pusaka, kendaraan bermotor, serta seluruh anggota keluarga yang hadir.
  3. Penggunaan Pereresik: Gunakan sarana tenan yang berisi daun dadap dan adeng (jelaga). Sentuhkan atau oleskan sarana ini pada keris, pusaka, serta kendaraan. Setelah itu, percikkan air tawar sebagai simbol pembersihan. Jika tersedia, Anda juga dapat menjalankan prosesi Biakale.
  4. Amanat Pasupati: Ayunkan tangan (ngayab) di atas Pejati atau Sesayut Pasupati ke arah luhur (utara atau timur). Pada momen ini, ucapkan sesontengan atau mantra pinunas yang ditujukan kepada Sang Hyang Pasupati.
  5. Pemberian Tirta Pasupati: Percikkan Tirta Pasupati yang berasal dari kemulan ke arah banten dan seluruh barang yang sedang diupacarai.

Penutup dan Tradisi Surudan

Setelah rangkaian utama selesai, Segehan diturunkan ke tanah. Berikan tetesan arak dan berem di atasnya. Seluruh keluarga kemudian bersiap untuk mengaturkan persembahyangan atau pemuspan.

Sebelum menerima tirta, sarana pereresik berupa daun dadap dan adeng dioleskan pada telapak tangan setiap anggota keluarga, diikuti dengan percikan air tawar. Khusus untuk Sesayut Pasupati, sarana ini diayunkan di depan dada setiap anggota keluarga sebagai bentuk pemberkatan diri.

Bagian akhir dari upacara ini adalah menikmati Surudan atau prasadam. Isi dari Sesayut Pasupati, baik berupa daging ayam maupun buah-buahan, dibagikan kepada seluruh anggota keluarga. Sangat dianjurkan agar makanan tersebut dinikmati sampai habis sebagai bentuk syukur.

Ritual ditutup dengan memohon tirta dan menghaturkan terima kasih kehadapan Ide Sang Hyang Widhi Wasa serta para leluhur karena upacara telah berjalan dengan lancar atau labde karya.

***


Sumber Artikel:

Lihat Sumber
  • Ida Pandita Kebayan
Tanya AI