
đź“·Pinta Masuk menuju Pura Pabean Buleleng/ortibali
Penulis: Orti Bali
ORTIBALI.COM –Â Di tengah maraknya pembicaraan tentang toleransi beragama dan moderasi akhir-akhir ini, ternyata Bali sudah lama memiliki bukti nyata yang hidup: sebuah pura yang memadukan unsur Hindu Bali dan budaya Tionghoa dengan begitu harmonis. Namanya Pura Pabean, terletang tepat di tepi Pantai Banyupoh, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali Utara.
Pura ini bukan sembarang tempat suci. Ia merupakan salah satu pesanakan (bagian) dari Pura Pulaki yang terkenal, bahkan letaknya persis di sebelah Utara Pura Pulaki. Setiap Purnama Sasih Kapat, umat dari kedua pura ini merayakan pujawali secara bersamaan — simbol kebersamaan yang sudah berlangsung ratusan tahun.
Dari Pelabuhan Dagang hingga Tempat Suci Bersama
Nama “Pabean” sendiri bukan tanpa arti. Menurut Kelian Pangempon Pura Pulaki dan Pesanakan, Jro Nyoman Bagiarta, kata ini merujuk pada tempat pengenaan bea cukai atau pabean bagi kapal-kapal dagang yang datang ke Bali pada masa lampau. Teluk Pulaki, dulu dikenal sebagai salah satu pelabuhan penting di utara Bali sejak sekitar tahun 1489 M (1411 Çaka), ramai dikunjungi pedagang dari berbagai penjuru, termasuk saudagar dari Tiongkok dan Madura.
“Kedatangan kapal-kapal dagang, terutama yang dipimpin pedagang Tionghoa, membuat teluk ini menjadi pusat perdagangan yang sibuk,” cerita Jro Bagiarta. Hubungan dagang yang intens itu lambat laun melahirkan ikatan budaya. Masyarakat lokal tak hanya berdagang, tapi juga saling menghormati keyakinan masing-masing.
Sebagai wujud terima kasih atas jasa para pedagang Tionghoa yang telah mengembangkan Teluk Pulaki menjadi pelabuhan yang ramai, masyarakat setempat kemudian mendirikan Pura Pabean. Di sini lah akulturasi Hindu Bali dan budaya Cina terlihat sangat jelas — baik dari arsitektur, pelinggih, hingga ritual yang masih dilaksanakan sampai sekarang.
Unsur Tionghoa yang Menyatu di Tengah Pura Hindu Bali
Begitu memasuki area pura, pengunjung langsung disambut pemandangan yang unik. Ada pelinggih utama bernama Ida Batari Dewi Ayu Manik Mas Subandar atau lebih dikenal sebagai Geriya Konco Dewi. Nama “Subandar” sendiri berasal dari bahasa Melayu yang berarti penguasa pelabuhan, sedangkan “Ratu Ayu Syah Bandar” adalah gelar kehormatan bagi sosok yang dianggap sebagai pelindung pelabuhan pada masa itu.
Yang menarik, di dalam kawasan pura yang sepenuhnya berarsitektur Bali ini, terdapat altar khusus untuk dewa-dewa Tionghoa seperti Buddha, Tian Gong (Dewa Langit), dan Dewi Kwan Im. Bahkan ada miniatur klenteng atau pagoda kecil yang berdiri berdampingan dengan bale-bale tradisional Bali seperti Bale Paselang dan Bale Panggungan.
Pelinggih lain yang tak kalah penting adalah Bathara Baruna, Widiadari-Widiadara, Taksu, Ngelurah, hingga Pengaruman Agung. Semua berdiri rukun dalam satu kawasan suci.
Bukti Arkeologi yang Menguatkan Cerita Lisan
Kisah akulturasi ini bukan sekadar cerita turun-temurun. Pada tahun 1991 dan 1994, ditemukan sejumlah artefak penting di sekitar Pura Pabean, antara lain lempengan-lempengan keramik khas Tiongkok dan empat kerangka manusia yang diperkirakan berasal dari masa Dinasti Yin (sekitar 2500 tahun sebelum Masehi). Temuan ini semakin menguatkan bahwa kawasan ini memang pernah menjadi pusat interaksi budaya lintas bangsa sejak ribuan tahun silam.
Toleransi yang Hidup Sejak Abad ke-15
Hingga hari ini, Pura Pabean tetap dirawat dan dipuja bersama oleh masyarakat Hindu Bali setempat. Setiap upacara, doa-doa Hindu Bali bercampur dengan penghormatan kepada Ratu Ayu Syah Bandar dan dewa-dewa Tionghoa. Inilah bukti nyata bahwa toleransi dan akulturasi bukan barang baru di Bali — ia sudah ada sejak ratusan tahun lalu, lahir dari hubungan dagang yang saling menguntungkan dan penuh rasa hormat.
Jadi, kalau kamu sedang menjelajahi Bali Utara, jangan lewatkan Pura Pabean di Banyupoh. Di sini kamu bisa melihat langsung bagaimana dua kebudayaan besar — Hindu Bali dan Tionghoa — melebur menjadi satu warisan indah yang masih hidup sampai sekarang.
Tag pencarian populer: Pura Pabean Buleleng, akulturasi Hindu Bali Cina, Pura dengan unsur Tionghoa di Bali, sejarah Teluk Pulaki, wisata religi Buleleng, toleransi beragama di Bali.
***














