🔥 Tag Populer 24 Jam

balihinduramalantenungweton

🕒 Pencarian Terakhir

🔍
[menu_topik_slider]
Tayang: Kamis, 28 Agustus 2025 09:48 WITA
Penulis: Sumiati Wayan | Editor: Bram Subali

ORTIBALI.COM – Hari Saraswati, yang jatuh pada Saniscara Umanis Watugunung, merupakan momen istimewa yang diperingati setiap enam bulan sekali. Hari ini dikenal sebagai saat turunnya ilmu pengetahuan, sebuah perayaan yang kaya akan makna spiritual dan budaya. Namun, tak banyak yang memahami rangkaian lengkap dari perayaan ini. Banyak yang lebih mengenal Banyu Pinaruh, padahal prosesi Saraswati dimulai jauh sebelum hari puncaknya.

Rangkaian perayaan Saraswati tidak lepas dari kisah Prabu Watugunung, yang tercatat dalam Lontar Medang Kemulan. Kisah ini menceritakan kekalahan Prabu Watugunung melawan Dewa Wisnu di medan perang, yang menjadi simbol perjalanan spiritual menuju kebijaksanaan. Berikut adalah urutan prosesi Saraswati yang sarat makna:

Prosesi dimulai sejak Redite Kliwon Watugunung, di mana Prabu Watugunung digambarkan gugur dalam pertempuran melawan Dewa Wisnu. Hari ini mengajarkan pentingnya meredam ego demi mencapai kebijaksanaan sejati. Keesokan harinya, pada hari Senin yang disebut Sandung Watang, melambangkan ketidaksadaran yang masih menyelimuti diri.

Pada hari Selasa, dikenal sebagai Paid-paidan, manusia dihadapkan pada unsur maya yang dapat menggagalkan proses penerimaan ilmu pengetahuan. Hari ini mengingatkan kita untuk waspada terhadap distraksi yang menghambat pembelajaran. Kemudian, pada hari Rabu, yang disebut Buda Urip, kesadaran buddhi dalam diri manusia mulai bangkit. Ini adalah momen ketika Watugunung dihidupkan kembali, melambangkan kebangkitan kesadaran untuk menerima ilmu.

Hari Kamis, yang disebut Pategtegan, menjadi waktu yang tepat untuk perenungan diri. Di hari ini, umat diajak untuk menyelami makna ilmu dan introspeksi. Lalu, pada hari Jumat, yang dikenal sebagai Pangredanan, Watugunung menyembah Dewa Siwa, yang juga disebut Bhatara Guru, sebagai simbol pengabdian pada kebijaksanaan ilahi.

Puncak perayaan terjadi pada Saniscara Umanis Watugunung, hari Saraswati itu sendiri, di mana ilmu pengetahuan diyakini turun ke bumi. Esok harinya, Banyu Pinaruh menjadi penutup rangkaian dengan prosesi pembersihan diri setelah menerima ilmu, menandakan kesiapan untuk mengamalkan pengetahuan dengan hati yang suci.

Rangkaian Hari Saraswati ini mengajarkan perjalanan spiritual yang mendalam, dari meredam ego hingga mencapai kesadaran penuh. Untuk tahun 2023, Hari Saraswati diperingati pada 20 Mei, sementara untuk tahun 2024, perayaan ini jatuh pada 14 Februari. Memahami prosesi ini tidak hanya memperkaya wawasan budaya, tetapi juga mengajak kita untuk menghargai ilmu sebagai anugerah suci.

***

Tanya AI