Tayang: Minggu, 7 September 2025 20:17 WITA
Penulis: Sumiati Wayan | Editor: Putu Linggih

ORTIBALI.COM – Umat Hindu di Bali merayakan hari suci Soma Ribek sebagai bagian dari rangkaian Hari Raya Saraswati. Hari ini jatuh pada Senin (Soma) Pon di Wuku Sinta, yang dianggap sebagai momen penuh berkah. Dalam tradisi Hindu Bali, Soma Ribek dikenal sebagai “Hari Pangan” versi lokal, mengandung makna mendalam tentang rasa syukur atas kelimpahan pangan dan karunia kehidupan.

Asal Usul dan Makna Soma Ribek

Kata Soma Ribek berasal dari bahasa Bali: Soma berarti Senin, dan Ribek dari kata Ri (hari) dan Bek (penuh). Secara harfiah, Soma Ribek merujuk pada hari penuh anugerah, di mana umat Hindu memperingati karunia ilmu pengetahuan dari Hari Saraswati yang telah menyejukkan hati bagaikan air suci (amertha). Hari ini juga erat kaitannya dengan Dewi Sri, dewi padi dan kemakmuran, yang menjadi simbol kelimpahan pangan.

Soma Ribek memiliki keterkaitan erat dengan tiga elemen alam: air, udara, dan api, yang masing-masing diwakili oleh dewa-dewa tertentu. Sang Hyang Wisnu sebagai perwujudan air (udaka), Sang Hyang Mahadewa sebagai udara (marutha), dan Sang Hyang Yama sebagai api (agni) menyatu dalam amertha kundalini, sumber kehidupan bagi seluruh makhluk. Dalam tradisi Bali, hari ini juga disebut sebagai penegdegan Batara Sri atau hari pemujaan beras dan padi, dengan upacara menggunakan beras sebagai simbol amertha.

Pantangan di Hari Soma Ribek

Menurut Lontar Pawukon, pada hari ini umat Hindu melaksanakan upacara di lumbung (tempat penyimpanan padi) dan pulu (tempat penyimpanan beras). Sarana upacara meliputi nyanyah geti-geti, kain gringsing, buah-buahan seperti pisang emas, dan bunga-bunga harum. Yang menarik, ada sejumlah pantangan khusus di hari ini, seperti tidak menumbuk padi, menjual beras, memanen padi, memetik buah atau sayur, hingga menjual hasil pertanian. Bahkan, di beberapa daerah, umat Hindu juga menghindari memberikan atau meminta bahan pangan.

Dalam sebuah podcast bertema “Makna Hari Soma Ribek” di kanal YouTube Kemenag Gianyar, Jro Mangku Ngakan Ketut Kembar, tokoh agama Hindu dari Gianyar, menegaskan bahwa pantangan ini berakar dari Lontar Sundarigama. Salah satu kutipan berbunyi:

“Ikang wang tan wenang anumbuk pari, angadol beras, katemah dening Bhatara Sri. Pakenania wenang ngastuti Sang Hyang Tri Pramana. Angisep sari tatwa adnyana, aje aturu ring rahinane.”

Artinya, umat dilarang menumbuk padi atau menjual beras, karena melanggar pantangan ini diyakini dapat menghalangi anugerah dari Batara Sri. Sebaliknya, umat dianjurkan memuja Sang Hyang Tripramana—dewa penguasa tiga aspek dunia (kenyataan, tanda, dan tata cara agama)—serta menyerap ilmu pengetahuan dan menjaga semangat kerja tanpa tidur di siang hari.

Namun, muncul pula anggapan bahwa Soma Ribek melarang pembayaran utang. Menurut Jro Mangku Ngakan, pantangan ini sebenarnya berlaku pada hari Buda Wage Wuku Kelawu, saat Odalan Rambut Sedana, yang menghormati Sang Hyang Rambut Sedana sebagai dewa uang. Menunda pembayaran utang di hari tersebut adalah bentuk penghormatan, bukan larangan mutlak. Pada Soma Ribek, pantangan utama tetap berfokus pada padi dan beras serta menjaga semangat kerja.

Tradisi dan Cara Merayakan Soma Ribek

Soma Ribek adalah wujud syukur atas karunia pangan, terutama padi, sebagai anugerah dari Ida Sang Hyang Widi Wasa. Umat Hindu di Bali biasanya menghaturkan banten (sesajen) berupa Canang Raka di setiap pelinggih (tempat suci) di merajan atau sanggah, serta di tempat sakral seperti jineng (lumbung padi) dan kelumpu (tempat beras). Banten ini biasanya terdiri dari:

Upacara ini mencerminkan rasa syukur kepada Bhatari Sri, manifestasi Dewi Sri yang melambangkan kemakmuran duniawi. Dengan menjaga tradisi ini, umat Hindu Bali tidak hanya memuliakan pangan, tetapi juga merawat kelestarian alam sebagai wujud bakti kepada Ibu Pertiwi. Menanam tanaman pangan, misalnya, dianggap sebagai cara menjaga keseimbangan lingkungan dan menyokong kehidupan.

Mengapa Soma Ribek Penting?

Soma Ribek bukan sekadar hari suci, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Dengan mematuhi pantangan dan melaksanakan upacara, umat Hindu Bali menunjukkan rasa syukur atas kelimpahan pangan dan kehidupan. Tradisi ini juga mengajarkan nilai kerja keras, keseimbangan spiritual, dan penghormatan terhadap alam.

***

Tanya AI