Menyambut Nyepi, Yang Harus Ada Ogoh-Ogoh Atau Api?

Menjelang hari raya Nyepi banyak hal yang dipersiapkan oleh umat Hindu se Bali, contohnya membuat ogoh-ogoh. Mengenai ogoh-ogoh dan Nyepi, berikut sebuah tulisan yang dikutip dari akun kompasiana milik I Ketut Merta Mupu yang mengungkapkan kaitan ogoh-ogoh, api, dan Nyepi.

Tahun lalu pernah menulis status facebook berjudul ‘Mubazir, Ogoh-Ogoh Sebaiknya Ditiadakan’. Ulasannya sebagai berikut:

Setiap menjelang Nyepi, kaula muda selalu disibukkan dengan pembuatan ogoh-ogoh. Biaya dan waktu yang dihabiskan tak tanggung-tanggung. Waktu yang dihabiskan bisa sebulan, bahkan lebih, sedangkan pembiayan mencapai puluhan juta. Untuk membuatnya pun dengan meminta sumbangan sana-sini. Bahkan ada yang seperti pengemis. Kehadiran ogoh-ogoh dalam upacara pengrupukan sebenarnya tidak penting, bahkan tidak memiliki nilai religius. Hanya kaya kreatifitas, namun miskin dari segi ritual. Kehadiran ogoh-ogoh dalam ritual pengrupukan hampir tak memiliki dasar atau tak ada sumber sastra, baik secara tradisi maupun dalam sastra tertulis.

Ogoh-ogoh pada mulanya berbentuk ‘usungan jenazah’ untuk meramaikan ritual “Pradaksina Desa” yaitu membawa obor keliling desa. Atas kreativitas orang Bali, agar lebih seru saat keliling desa membawa obor, dibuatlah ogoh-ogoh yang menyeramkan sebagai symbol bhuta kala, diarak keliling desa. Keliling membawa obor ini tujuannya untuk ‘nyomia’ mahkluk-mahkluk halus, mahkluk pengganggu supaya kembali pada tempatnya, agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Sebelum pradaksina desa, dilakukan keliling membawa obor mengelilingi rumah.

Tradisi ini hampir punah, dengan disederhanakan menjadi membakar “sambuk” atau serabut kelapa di pekarangan rumah. Pada intinya, ogoh-ogoh itu tidak penting dalam acara pengrupukan, yang terpenting adalah ritual nyomia bhuta kala. Seharusnya ogoh-ogoh dihapuskan, terlalu mubazir. Coba kita hitung berapa uang yang hangus terbakar hanya karena ogoh-ogoh? silakan hitung berapa jumlah desa di Bali, lalu anggaplah satu desa ada 3 ogoh-ogoh dengan biaya 2 juta.

Coba saja, uang seperti itu digunakan untuk membantu orang jompo, anak terlantar, orang cacat. Betapa mereka akan bahagia. Dengan demikian kita bisa ikut berpartisipasi membangun keadilan social sesuai amanat UUD; Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara Negara. Yang setuju, monggo dibagikan/share ke teman-teman!

Beberapa hari yang lalu, ada seseorang tanpa identitas sms saya, menanyakan kenapa ada ogoh-ogoh? apakah ada sumber sastranya? dan apa efeknya jika ditiadakan? Saya menjelaskan sejauh yang saya pahami bahwa ogoh-ogoh tak berdasar pada sumber sastra, hanya sebatas kreativitas masyarakat Hindu Bali untuk memeriahkan ‘Tawur Agung Kesanga’. Apabila ogoh-ogoh ditiadakan, tidak begitu memiliki efek terhadap kegiatan keagamaan karena ogoh-ogoh bukan menjadi bagian penting dalam rangkaian Nyepi.

Pada awalnya, ogoh-ogoh ada untuk membuat kaula muda bersemangat ‘Nyatur Desa, yaitu rangkaian acara nyepi dengan mengelilingi desa membawa obor. Obor atau nyala api inilah sebenarnya yang menjadi ritual penting dalam rangkaian Tawur Kesanga. Dimana Api digunakan sebagai penyucian desa (jagat). Ogoh-ogoh baru diadakan sekitar tahun 1967, yang ada dalam tradisi adalah tradisi obor mengelilingi desa. Seperti dinyatakan dalam sastra, bahwa apapun yang disentuh Api (Agni), maka akan menjadi suci.

Demikian pula halnya dengan mengelilingi desa dengan membawa obor maka desa bersangkutan menjadi suci. Penyucian ini dilakukan untuk menyambut tahun baru Saka. Sedangkan di tingkat rumah, biasanya dengan membakar serabut kelapa. Di sebagian desa adat di Bali dilakukan dengan mengelilingi rumah membawa obor dan membunyikan kentongan, dilengkapi dengan beberapa sesajen. Oleh karena itu, kehadiran api dalam menyambut Nyepi sangatlah penting, karena hakekat daripada hari suci Nyepi adalah penyucian bhuana agung (alam) dan bhuana alit (manusia).

Sehingga dalam prakteknya, sebelum menyambut Nyepi diadakan melasti untuk menyucikan pratima atau arca Ida bhatara, dewa-dewi, dan arca Tuhan. Demikian juga ketika Tawur kesanga, setelah ogoh-ogoh diarak keliling desa, atau hanya dilakukan di pusat desa, maka ogoh-ogoh harus dibakar, digunakan untuk menyucikan desa bersangkutan. Kalau kita tengok tradisi kebudayaan lain, kita akan menemukan tradisi yang serupa, seperti Imlek, dimana untuk menyambut tahun baru China, kehadiran tradisi menyalakan lilin sangat penting. [Note: sistem penanggalan kalender China serupa dengan penanggalan kalender Hindu Bali, yaitu menggunakan sistem Surya dan Sistem Chandra].

Di beberapa negara, Scotlandia misalnya, mereka menyambut tahun baru dengan membawa bola api. Di negara Equador, mereka merayakan tahun baru dengan membakar orang-orangan sawah. Ini mirip dengan membakar ogoh-ogoh. Hal serupa juga dilakukan di Kolumbia. Demikian juga dalam menyambut tahun baru Masehi, menyalakan kembang api dan petasan menjadi hal yang penting. Hanya saja, baik dalam menyambut tahun baru Masehi maupun Imlek, terlihat lebih modern, sedangkan tradisi di Bali masih Kuno. Tetapi dibalik kekuno-annya menggunakan obor dalam menyambut tahun baru adalah sebuah upaya mempertahankan tradisi Veda untuk menyucikan Bhuana Agung, sedangkan kebudayaan lain telah kehilangan nilai religiusnya, hanya eforia tanpa makna. Nampaknya dalam masyarakat Hindu Bali juga mulai demikian, kehadiran ogoh-ogohlah dianggap penting (hanya eforia), padahal keberadaan Api sebenarnya yang merupakan berdasar pada sastra,

sumber : kompasiana/mertamupu, hukumhindu

Bagaiman menurut Semeton?

error: