Esensi Kematian Dalam Hindu Bali

Kata “kematian”, (mati; wafat; berpulang, ngalih tanah wayah, pralina; seda; meninggal dunia; sang putus; sang amantuk; sang lina), disebutkan berarti :

  • Hubungan manusia sebagai mahluk hidup dengan dunia nyatanya telah putus yang biasanya dalam Bahasa Bali berkaitan dengan upacara pitra yadnyadisebut dengan “Pegat Angkihan” dimana :
    • Doa pralina diucapkan agar roh berjalan tenang dan diterima oleh Ida Shang Hyang Wenang / Hyang Widhi untuk dapat mencapai kesucian.
  • Terlepasnya sang jiwa (atman) dengan sthula sarira(badan fisik) juga disebutkan :
    • Akan melewati alam Mrtya Loka dengan perlahan-lahan;
    • Untuk melepaskan sisa-sisa keterikatan terhadap kehidupan duniawi dan kekasaran pikiran.
  • Mulih ke tanah wayah menuju alam swah loka yang berpusat pada Tuhan Yang Maha Esa (God-centric).

Ia dikatakan kembali ke alam baka / ke akhirat dan setiap orang akan mengalaminya. Hendaknyalah disebutkan,

  • Setelah kematian untuk dapat mencapai moksa, kebahagiaan yang abadi.
  • dan ketika waktu itu akan tiba, juga disarankan :
    • lakukanlah bhakti kepada Tuhan secara srawanam dengan mendengarkan secara seksama Ikang Tinutur Pineh Ayu saat menjelang kematian dimana pranamaya kosha itu akan bergerak mengalir.
    • Karena Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa – lah sebagai sang pencipta kelahiran dan kematian yang berwenang menentukan status batas usia,
      • yang tidak dapat diramal oleh manusia biasa,
      • kapan waktunya yang tepat seseorang berpulang kedunia akhirat.
  • Dan ketakutan yang berlebihan terhadap kematian hanyalah akan menjadi rintangan abhiniwesa dalam mencapai kelanggengan abadi.

Jadi “mati” adalah suatu keharusan dari hidup manusia yang kemudian masing-masing bangsa, masing-masing agama, masing-masing suku mempunyai cara-cara tersendiri untuk memberikan penghormatan terakhirnya sebagai  manusia yang memiliki peradaban budaya.

Khususnya di Bali dengan umat yang memeluk Agama Hindu yang menganut kepercayaan adanya roh atau atma masih hidup setelah badan kasar tak bergerak dan terbentang kaku, mempunyai upacara yang khas dalam penyelenggaraan jazad seseorang yang berpulang yang disebutkan dalam Pitra Yajna,
dimana rangkaian dari upacara ini biasa dikenal dengan Istilah Ngaben / Palebon / Pralina dll, dan disesuaikan dengan tingkat dan kedudukan seseorang yang bernilai “Desa-Kala-Patra-Nista-Madya-Utama”. Demikian dijelaskan dalam sumber kutipan “Makalah Upacara Ngaben di Bali”.Dalam teks Yama Purwana Tattwa memilah upacara kematian menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Pada pelaksanaan upacara pengabenan terjadi pemisahan antara stula sarira dengan suksma sarira melalui pemercikan tirtha pengentas, selanjutnya stula sarira dipralina, sedangkan suksma sarira diantar  ke sunya loka dengan wedapuja,
  2. Pada pelaksanaan upacara pengiriman, tulang-tulang yang sudah dibakar dipungut, kemudian direka sebagai perwujudan raga, di atasnya ditempatkan 22 buah kewangensebagai simbol jiwa, selanjutnya dwi sarira ini dipersatukan dengan puja utpathi, disuguhkan yadnya sesajen, disucikan, kemudian dipralina kembali selanjutnya dianyut,
  3. Pada pelaksanaan upacara memukur atau nyekah, sang atma di angkat  kembali, di-sthana-kan pada adeg sekah, dipuja utpathi sebagai simbolis penyatuan, disucikan, kemudian dipralina, selanjutnya nganyut ke segara / laut.

Setelah tiga kali mengalami proses penyucian, dilanjutkan dengan pelaksanaan Upacara Nuntun Dewa Hyang yang bertujuan memberikan kebebasan dan penghormatan kepada para leluhur.

Alam kematian dalam Tri Loka sebagai lapisan-lapisan alam yang mayoritas dibentuk oleh mental, dijelaskan bahwa ketika kita mati, kita berpisah dengan sthula sarira (badan fisik) kita.Akibatnya semua rekaman atau memory dari seluruh kehidupan kita (yang tersimpan di karana sarira) muncul dan jebol semua, karena tidak ada lagi badan fisik yang menjadi penghalang (membuat kita lupa).

Sehingga di alam kematian, seluruh akumulasi pengalaman hidup baik dan buruk (atau prilaku subha karmamaupun asubha karma) akan muncul dari segala sudut pikiran, kejadian demi kejadian. Seperti film yang diputar cepat. Semua kejadian dan pengalaman hidup kita akan terlihat sangat jelas dan detail layaknya kita menonton film layar lebar..Dalam Kriyamana Karma Phala, disebutkan pula bahwa setelah orangnya mengalami proses kematian,  pahalanya akan diterima pada kelahiran berikutnya….

Sebagaimana diceritakan pula pada bagian bhismaparwa dalam Epos Mahabharata,
bahwa Kakek para Pandawa dan Korawa yaitu Bisma mempunyai sebuah kesaktian bahwa ia bisa meninggal dunia pada waktu yang ditentukan sendiri.

Selain ungkapan belasungkawa amor ring acintya, untuk doa / mantra melayat orang meninggal dunia diucapkan bait – bait sebagai berikut :

Om atma tattwatma naryatma Swadah Ang Ah

Om swargantu, moksantu, sùnyantu, murcantu.

Om ksàma sampurnàya namah swàha.

 

(Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, semogalah arwah yang meninggal mendapat sorga, menunggal denganMu, mencapai keheningan tanpa derita. Ya Tuhan, ampunilah segala dosanya, semoga ia mencapai kesempurnaan atas kekuasaan dan pengetahuan serta pengampunanMu.)

sumber : sejarahharirayahindu, PHDI

error: