Sejarah Pura Lempuyang Dan Bambu Pelinggih Tirta Pingit

Pura Lempuyang berlokasi di Ds. Tista, Kecamatan Abang, Karangasem. Dari kota Denpasar, lokasi pura ini dapat dicapai melalui kawasan wisata Candi Dasa melewati kota Amlapura (ibukota Kabupaten Karangasem) dengan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan mobil. Alternatif jalur lainnya adalah melalui Kecamatan Selat Karangasem, melalui kota Semarapura dengan mengambil arah jalan ke Besakih.

Pura Lempuyang merupakan sebuah komplek pura yang terdiri dari beberapa pura sebagai penyiwi (pendukung) dari pura utama yaitu Pura Lempuyang Luhur (Pura Puncak Lempuyang Luhur). Pura Lempuyang Luhur yang berada di puncak tertinggi Gunung Lempuyang (atau dikenal juga sebagai Bukit Bisbis), umumnya dicapai dengan mendaki jalan tangga yang dimulai dari Pura Telaga Mas. Pendakian menuju Pura Lempuyang Luhur pada umumnya dapat ditempuh selama sekitar 2 jam dengan beberapa kali istirahat termasuk bersembahyang (muspa) di beberapa pura yang dilalui pemedek menuju ke puncak luhur.

Sebagai catatan Pura Lempuyang Luhur bukanlah pura dengan lokasi tertinggi (dari muka laut) di Bali. Pura yang lokasinya tertinggi di Bali adalah Pura Puncak Mangu di puncak Gunung Catur (2096 m dpl) – Petang, Badung. Berikutnya adalah Pura Puncak Penulisan di bukit Penulisan (1.745 m dpl), Kintamani, Bangli. Sementara Pura Lempuyang Luhur berada pada ketinggian 1.174 m dpl, namun dari tempat awal pendakian di Pura Telaga Mas, perjalanan akan naik turun beberapa bukit terutama bila kita lewat jalur Lempuyang Madya menuju Lempuyang Luhur yang harus melalui jalan tanah yang cukup terjal dan sangat sulit terutama di musim hujan.

Pada bagian tangga beton (dari Pura Telaga Mas ke Pura Lempuyang Luhur) kemungkinan ada sekitar 1.750 tangga, ada juga yang mengatakan 1.800 sedangkan Pura Lempuyang Madya berada pada jalur lain yang agak terpisah dan jalan tangga terputus sampai di Pura Lempuyang Madya.

Tidak ada catatan resmi ataupun bukti ilmiah tentang kapan pura Lempuyang ini didirikan namun bisa dipastikan Pura Lempuyang merupakan salah satu pura tertua di Bali. Dari beberapa kalangan bisa menyimpulkan bahwa pura ini kemungkinan besar dibangun pada abad ke 9/10 M oleh Maha Rsi Markandeya yang sekaligus juga sebagai perintis masuknya agama Hindu, yang dianggap juga sebagai tonggak awal masa sejarah di Bali.

Berdasarkan lontar Markandeya Purana, disebutkan bahwa Rsi Markandeya membuat sebuah asrama untuk keperluan beliau dalam persembahyangan maupun dalam rangka untuk menyebarkan ajaran suci agama Hindu di daerah ini. Asrama yang disebut juga sebagai Pura Silawanayangsari tersebut kemungkinan berada pada lokasi Pura Lempuyang Madya sekarang ini. Di daerah ini beliau dikenal sebagai Bhatara Gnijaya. Namun bisa saja Bhatara Gnijaya yang disebutkan membuat peasraman di pura ini bukanlah Rsi Markandeya karena bukti – bukti sejarah yang mendukungnya masih sangat minim.
Sekedar catatan, pada masa sekarang ini Bhatara Gnijaya ini oleh wangsa/klan Pasek (dalam Babad Pasek dikenal sebagai Hyang Gnijaya, walaupun tidak ada kepastian ilmiah apakah Hyang Gnijaya dalam Babad Pasek sama dengan Bhatara Gnijaya seperti yang dimaksud dalam Markandeya Purana) dianggap sebagai leluhur mereka dan Pura Lempuyang Madya pada saat ini dianggap sebagai kawitan tertinggi dari warga Pasek.

Dalam konsep Dewata Nawa Sanga, pura ini merupakan sthana dari Dewa Iswara dengan saktinya Dewi Uma. Dalam konsep Padma Bhuana, Pura Lempuyang berada di Timur (Purwa). Pura Lempuyang mempunyai areal yang cukup luas dengan jarak antara Jaba Mandala (Penataran Agung Lempuyang) dengan Utama mandala (Pura Lempuyang Luhur) sekitar 4 km, menembus hutan belantara yang masih terjaga keasriannya.

Arti Lempuyang sendiri tidak bisa ditentukan secara pasti. Kemungkinan berasal dari kata ‘lampu’ (sinar) dan ‘hyang’ (Tuhan) sehingga diartikan sebagai Sinar Tuhan. Juga erat kaitannya dengan posisinya dalam Padma Bhuana yaitu di arah Timur dengan lambang warna putih. Mungkin itu juga sebabnya mengapa konstruksi Pura Penataran Agung Lempuyang didominasi oleh batu berwarna putih. Dari kejauhan, di daerah sekitar Tirta Gangga, pura ini tampak bersinar putih diantara hijau rerimbunan pepohonan. Mungkin juga karena di kawasan ini banyak ditemukan tanaman lempuyang yang merupakan jenis tanaman umbi – umbian yang dipakai untuk bumbu dapur.

Kawasan Gunung Lempuyang ini mempunyai vegetasi hutan tropis yang cukup lebat dan terjaga keasriannya. Beberapa jenis vegetasi pegunungan yang mendominasi adalah pakis raksasa dan pandan gunung selain beberapa jenis pohon kayu keras khas daerah dataran tinggi. Sementara jenis hewan yang banyak kita jumpai di sini adalah jenis kera ekor panjang. Kera di sekitar kawasan pura ini lumayan banyak dan terkesan masih sangat liar.
Pura Lempuyang mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat Bali sebagai salah satu Pura Kahyangan Jagat yang dalam konsep Padma Bhuwana/ Dewata Nawasanga menempati posisi Timur (Purwa) sebagai stana Hyang Widhi dalam manifestasiNya sebagai Dewa Iswara. Piodalan di Pura Lempuyang Luhur dilaksanakan setiap 210 hari sekali pada Wrespati Umanis Dungulan (Manis Galungan).

sumber: dwimistyriver, babadbali, inputbali

error: