Kisah Perjalanan Menuju Neraka Dalam Hindu

Perjalanan di mulai dari sebuah wilayah yang disebut dengan nama Ayatanastana, “ikang loka pantaraning swarga lawan naraka”, yaitu sebuah wilayah perbatasan diantara surga dan neraka. Ayatanastana adalah sebuah tempat dimana para pitara atau para roh orang yang telah meninggal di periksa dan adili, untuk kemudian dibawa ketempat yang sesuai dengan karmanya. Apakah yang bersangkutan layak mendapatkan kebahagiaan surga atau siksa hukuman neraka. Di tempat ini pula tampak roh atau para pitara yang tengah tergantung, dengan posisi kepala dibawah dan kaki diatas, yang terikat di sebuah batang bambu, yang mana dibawahnya adalah jurang yang sangat dalam. Seekor tikus tampak menggigit dan menggeroti batang bambu tersebut. Hukuman siksa “megantungan petung sawulih”  ini dikatakan akibat dari putusnya keturunan yang bersangkutan. Sungguh pemandangan yang sangat mengiris hati.

Dari Ayatanastana, ke arah selatan adalah arah menuju ke neraka. Dari kejauhan tampak wilayah neraka, namun samar-samar, karena begitu jauh dan luasnya. Jalanan yang dilalui untuk menuju ke neraka sangat berbahaya dan menakutkan. Dengan jurang-jurang yang sangat lebar dan dengan kedalaman yang tidak dapat diukur, serta kegelapan yang bagaikan tak pernah putus. Batu-batu besar menggelinding dan meluncur kencang, menimpa, menabrak dan meremukan siapapun yang tak waspada saat melintas. Tampak ada banyak sekali roh-roh yang tidak bisa melewati tempat ini.

Di tengah jalan secara tiba-tiba muncul kobaran api yang membara sangat besar, “apui umurub angarab-arab”, yang menghalangi dan merintangi perjalanan. Begitu panasnya membuat keringat mengucur deras dan kulit mengkerut. Api itu membakar dan menghanguskan siapapun yang berusaha lewat di tempat itu. terdengar jeritan kesakitan  para roh yang yang terbakar. Bau hangus dan angit menyeruak di udara tatkala kobaran api tersebut membakar roh-roh yang melewati jalanan tersebut.

Setelah berjalan melewati kobaran api tersebut, tibalah di sebuah wilayah yang luas namun sangat-sangat panas. Debu yang sangat tebal berterbangan, begitu menyesakan dan membuat mata sangat pedih. Wilayah yang sangat-sangat luas ini disebut dengan Tegal Pamasaran. Di wilayah yang luasnya hampir tak terukur ini, tumbuh rumput dan ilalang yang sangat tajam bagaikan pedang. Sangat sulit bahkan tidak mungkin bagi para roh untuk mampu melewatinya. Mereka yang berada dan terjebak disini, kepanasan bagaikan terbakar oleh panas teriknya Matahari. “Lud panas ning Diwakara”. Wilayah ini senantiasa kering kerontang dan panas membara. Ditempat ini para roh, berebut saling mendahului untuk memperoleh tempat berteduh, mereka berteduh diantara bebatuan-bebatuan besar disana. Namun tanpa disangka, tiba-tiba bebatuan tersebut saling tercakup, menjepit para roh yang berteduh di situ. Tubuhnya hancur, darahnya muncrat, otaknya berhamburan keluar. Kemudian tampak para roh tersebut berhamburan, berlarian dikejar oleh “paksi krura rupa”, burung-burung pemakan bangkai yang berwujud sangat mengerikan dan menakutkan. Dengan mulut yang menganga lebar dan bulu-bulu yang sangat tajam setajam keris. Ditempat ini terdapat pepohonan yang berbuah keris, “mawah kadga”, yang sangat tajam. Buah-buahnya yang berupa keris yang tajam berjatuhan menimpa siapapun yang lewat dibawahnya. Sungguh pemandangan yang sangat-sangat mengerikan dan membuat siapapun ketakutan.

Berjalan melewati wilayah ini, ada sebuah aliran sungai. Sungai yang sangat besar dan dalam, dengan airnya yang kotor serta panas mendidih. Sungai ini dipenuhi oleh buaya-buaya yang berkepala raksasa yang menakutkan. “Sarodra mungup tang bajul atendas raksasa”. Dengan mulut yang senantiasa menganga, mengintai untuk menenggelamkan dan memangsa siapapun yang mendekat dan berusaha menyeberanginya.

Disini jalanan sangat licin,  karena dipenuhi nanah dan cairan-cairan lemak bangkai yang menjijikan. Tulang belulang berserakan bagaikan kerikil di jalanan. Bau busuk dan bau amis menyebar diudara, menusuk hidung. Lalat berterbangan, ulat belatung, lintah dan berbagai mahkluk neraka yang menjijikan tampak ada disana.

Tempat yang begitu mengerikan dan menakutkan inilah yang disebut neraka, “Yamaniloka”.Tempat kediaman dari Dewa Yama, penguasa kematian. “Sira Bhatara Sang Hyang Yama ngaran ira, sang makawasa wasitwa ngke ring Nirayaloka”. Beliaulah yang berstana dan berkuasa di tempat ini. Di tempat ini, para roh yang semasa hidupnya dipenuhi dengan dosa-dosa memperoleh hukumannya yang setimpal.

Jerit tangis kesakitan dan teriakan minta tolong menggema dari para roh yang sedang menerima hukumannya. Berbagai jenis siksa neraka dapat dilihat disini. Kawah pasir panas tempat para roh bagaikan digoreng, serta berbagai siksa neraka lainnya.

Siapapun tidak akan mampu menolong mereka, para roh tersebut, untuk terbebas dari hukuman neraka tersebut. Namun dengan perbuatan bajik dan doa dari para keluarga dan keturunan mereka, siksa dan penderitaan di neraka akan terasa menjadi lebih ringan. Perbuatan bajik dan doa dari keluarga dan keturunannya, bagaikan rintik-rintik hujan saat panasnya musim kemarau, bagaikan desiran angin sepoi-sepoi saat panas teriknya matahari. Bagaikan setetes air saat dahaga, meskipun setetes namun memberi kelegaan. Meskipun sulit untuk membebaskan para roh tersebut dari siksa hukuman neraka, namun segala perbuatan bajik dan doa-doa keluarga dan keturunannya dapat memberikan sedikit kelegaan bagi mereka atau mungkin bahkan bisa membantu mereka terangkat dari panasnya bara api neraka.

Sehingga, bagi siapapun yang ingin membantu leluhurnya agar terbebas atau teringankan dari siksa neraka serta terangkat dari alam bawah, tidak ada cara lain selain melakukan berbagai perbuatan bajik dan senantiasa mempersembahkan doa-doa yang tulus kepada mereka. Semakin besar kebajikan yang dilakukan oleh keturunan atau Prestisantanannya, serta semakin tulus doa-doa yang dipersembahkan, semakin besar pula kemungkinan para leluhurnya untuk dapat cepat terbebaskan dari siksa hukuman neraka, dan bisa kembali pulang ke Pitralokha atau ke surga

Disarikan dari Adiparwa & Lontar Swargarohanaparwa

sumber: Ganapatyananda, suryawanhindudharma

error: