Mitos Di Larang Membaca Dan Menulis Pada Hari Raya Saraswati

Hari suci Saraswati yang diperingati setiap enam bulan sekali berdasarkan penanggalan kalender Hindu Bali masih menyisakan pertanyaan, dimana pada hari suci ini berdasarkan tradisi dilarang membaca dan menulis, bahkan juga dilarang mengidungkan lagu-lagu rohani. Pada hari yang suci ini umat Hindu nusantara melakukan pemujaan kepada Tuhan sumber segala ilmu, Saraswati Ma, Dewi Saraswati.

Bagi beberapa orang larangan membaca dan menulis pada hari Saraswati dianggap mitos, dianggap mengada-ada dan tidak masuk akal. Pandangan seperti itu bahkan muncul dari kalangan intelektual Hindu sendiri. Menurut mereka jika dilarang membaca dan menulis maka akan membuat kita bodoh.

Tetapi setelah dicermati ternyata logika mereka itu palsu, menyesatkan. Seakan mereka tidak pernah beristirahat dari aktifitas belajar dan mengajar, padahal setiap hari minggu libur dari aktifitas belajar mengajar, ditambah lagi libur hari raya, libur nasional. Bahkan di negara kita untuk menghargai ilmu pengetahuan kita mengenal hari pendidikan nasional dan juga hari guru. Perayaan-peraya
an seperti ini dalam masyarakat Hindu sudah dikenal sejak dahulu kala, sedangkan masyarakat modern belakangan mengenal hari-hari seperti itu.

Yang menjadi aneh ketika ajaran Hindu Bali hanya melarang untuk tidak membaca dan menulis hanya enam bulan sekali umat Hindu protes dan mengatakan hal itu menjadikan orang menjadi bodoh, sedangkan libur sekali setiap minggu mereka senang, tak pernah mereka mengatakan hal itu membuat mereka menjadi bodoh. Demikianlah akibatnya jika menafsirkan tradisi hanya berdasarkan logika, lebih-lebih logika asal-asalan, logika palsu.

Kenyataannya ketika kita belajar terus menerus tanpa hari libur bisa setres berat, bahkan pernah saya baca bahwa libur dari aktifitas belajar mengajar itu sangat penting agar kinerja otak lebih baik. Jika kita mau menelaah lebih dalam, ajaran Hindu demikian agungnya dimana kita diajak untuk memuliakan Tuhan dan dilarang berkaktifitas belajar dan mengajar dalam sehari. Ingat! hanya sehari dalam enam bulan.

Seperti yang kita ketahui, dalam ajaran Hindu identik dengan merayakan sesuatu dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dalam setiap satu siklus dengan hening, meditasi, puasa, dan lain sejenisnya. Misalnya Nyepi dirayakan setiap setahun sekali dengan catur brata penyepian. Kita juga mengenal banyak tumpek untuk menghormati Yang Kuasa dalam berbagai manifestasinya, seperti Tumpek Ngatag untuk memperingati hari tumbuh-tumbuhan, Tumpek Uye untuk memperingati hari hewan dengan memuliakan Tuhan dalam wujud dewa Sankara. Demikian pula untuk memperingati hari pendidikan untuk memuliakan ilmu pengetahuan kita merayakan hari suci Saraswati dengan pemujaan kepada ibu Saraswati sumber segala ilmu.

Setiap satu siklus, kita memang perlu untuk kembali ke 0 (nol) atau kembali ke awal, dimana kita perlu heningkan pikiran dari segala aktifitas belajar dan mengajar, lebih-lebih yang berkaitan dengan ajaran ketuhanan atau pengetahuan rohani. Dalam ajaran Hindu juga ada aturan pada hari-hari tertentu dilarang membaca Veda. Sedangkan Larangan membaca dan menulis saat Saraswati kita temukan dalam Lontar Sundarigama.

Mencermati kenyataan seperti itu apa yang diajarkan leluhur kita adalah sebuah kebenaran bukan sekedar mitos. Tetapi yang patut kita pertanyakan justru keadaan sebaliknya; sudahkah kita belajar (membaca dan menulis) setiap hari? Jika belum, jangan pernah menggugat larangan membaca dan menulis saat perayaan hari suci Saraswati.

sumber: mertamupu, hukumhindu, mantrahindu, inputbali

error: