Jenis Kayu Yang Tenget Di Bali

Keyakinan akan adanya daya spiritual tertentu yang mendiami pohon-pohon atau benda-benda tertentu merupakan suatu kelaziman. Fenomena ini termasuk sugesti spiritual, yaitu suatu keyakinan yang kuat yang mempengaruhi psikologis seseorang terhadap suatu tempat, benda, ajaran, perasaan atau pertanda lain, kerena keyakinan tentang aspek kedewataan. Umumnya sugesti spiritual ini terjadi sebagai akibat pengalaman seseorang yang mengalami suatu kejadian aneh. Atau mungkin juga mendengarkan cerita-cerita serta pembeberan bukti-bukti dari orang-orang yang layak dipercaya, sehingga informasi yang diterima menjadikannya yakin sepenuhnya. Pohon-pohon yang memang doyan ditempati oleh mahluk-mahluk halus misalnya pohon beringin, pule, kepuh, ancak dan sebagainya.

Keangkeran suatu pohon tidak lepas dari tempat di mana pohon itu berada. Termasuk bagaimana masyarakat pendukung dari tempat itu memperlakukannya. Pohon-pohon yang besar yang hidup di suatu tempat, dimanapun itu apabila diperlakukan secara sacral, seperti dipersembahkan sesaji, dijaga kesuciannya, dibuatkan tempat pemujaan, dihias dengan kain, seperti misalnya kain polenglambat laun aka nada roh yang mendiami tempat tersebut. Karena sesungguhnya secara niskala banyak sekali roh-roh yang berkeliaran yang belum mendapatkan tempat. Roh yang mendiami antara pohon yang satu dengan pohon di tempat yang lain tidaklah sama. Ini tergantung di mana pohon tersebut berada. Seperti pengalaman yang pernah dialami oleh Jero mangku, ia pernah melihat sosok wanita tinggi besar dengan pakaian putih-putih yang menghuni sebuah pohon pule yang tempatnya di setra (kuburan). Dari cerita tersebut percaya tidak percaya hal itu pernah dialami.

Pohon atau tempat akan tetap menjadi tenget sepanjang masyarakat sekitarnya atau pendukung dari tempat itu menjaga ke-tenget-an. Artinya masyarakat masih tetap menjaga kesucian tempat itu, masih mempersembahkan sesaji. Memang konsep tenget menampakkan wajah yang meyeramkan bagi pemahaman masyarakat. Namun ada segi positif secara nyata yang bisa kita amati terhadap hal itu. Seperti misalnya adanya perilaku masyarakat  yang tidak berani berbuat sesuatu yang kurang baik di sekitar tempat tersebut. Serta masyarakat cenderung beretika, seperti misalnya ketika melintasi jalan yang ada pohon besar apalagi yang dihiasi dengan kain poleng, maka orang akan membunyikan klaksonnya serta akan cenderung berhati-hati.masyarakat tidak akan merusak lingkungan di sekitar tempat tersebut karena masyarakat takut akan hukuman secara niskala. Hal ini akan memberikan pendidikan kepada umat, untuk selalu menjaga alam, dan melestarikan alam, lebih pohon-pohon besar yang sudah langka dan selalu dibutuhkan oleh umat Hindu dalam melaksanakan kegiatan upacara keagamaan. Dengan demikian, orang yang meyakini hal tersebut tidak akan menebang pohon sembarangan dan tetap menjaga kesucian alam demi keajegan dan kerahayuan jagat.

Selain konsep tenget tadi untuk tetap menjaga kelestarian dari pohon-pohon besar yang secara niskala memang ada beberapa yang diyakini tenget, dalam lokal genius orang Bali memiliki pantangan-pantangan untuk menggunakan kayu tertentu sebagai bahan bangunan. Jika hal ini dilanggar dikenal dengan istilah kedurmanggalan (ketidak harmonisan), serta bisa mengakibatkan sakit (pemalinan), juga mengakibatkan kemalangan atau penderitaan bagi yang menempatinya. Adapun kayu yang pantang digunakan antara lain :

  • Kayu yang diambil dari pohon kayu yang terkenal angker disebut dengan rebutkala. Artinya ada pohon yang diyakini masyarakat angker  lantaran sering terjadinya kejadian-kejadian gaib di sekitar pohon tersebut. Jika digunakan sebagai rumah, maka penghuninya akan mengalami penderitaan dalam hidupnya.
  • Sesawadung adalah kayu yang berasal dari tebangan sebelumnya sering disebut pula tunggak wareng, yang tumbuh kembali menjadi kayu yang besar. Kadurmanggaian sesa wadung (kemalangan sisa kapak). Penghuni akan hidup dalam kemalangan dan penyakit, penghuninya kerap mati mendadak.
  • Kayu yang diambil dari pohon yang tumbuhnya di tepi sungai yang disebut dengan anepiluwah. Jika hal ini dilanggar penghuninya akan mengalami berbagai berbagai jenis penyakit lantaran kehabisan cairan.
  • Kayu yang diambil dari pohon kayu yang tumbuh di Pemrajan atau tempat pemujaan yang disebut dengan candragni. Penghuninya akan hidup kesusahan mereka seolah-olah dimusuhi oleh berbagai jenis rejeki.
  • Kayu yang diambil dari pohon kayu yang tumbuh di kuburan yang disebut dengan Bhutagrha. Penghuninya akan mengalami berbagai hal yang aneh yang sulit dicerna oleh akal, mereka sering bertindak seperti orang gila.
  • Kayu yang diambil dari pohon kayu yang tumbuh di pertengahan pembatas atau sekat pekarangan. Ini disebut dengan pamali wates. Penghuninya akan berumur pendek.
  • Kayu yang diambil dari pohon kayu yang tumbuh di tepi kolam atau danau yang disebut dengan asurigrha. Penghuninya kerap kali mengalami keguncanagn pikiran.
  • Kayu yang diambil dari pohon kayu yang sering dihinggapi oleh burung gagak disebut sagagak. Jika digunakan penghuninya akan mengalami kesialan dan nasib malang.

Pantangan bagi masyarakat Bali jaman dulu menggunakan tumbuhan (pohon) yang dianggap tidak pantas atau tidak layak digunakan sebagai bahan bangunan, adalah wujud nyata dari perhatian dan keseriusan para tetua orang Bali  mengamalkan konsep Tri Hita Karana (tiga hal yang menyebabkan kesejahteraan0 dalam kehidupan sehari-hari.

sumber: puragunungsalak, ceritamisteri

error: