Upacara Nangluk Merana

Upacara Nangluk Mrana (merana) adalah upacara yadnya yang dilaksanakan sebagai permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa agar berkenan menangkal atau mengendalikan gangguan – gangguan yang dapat membawa kehancuran atau penyakit pada tanaman, seperti padi di sawah, hewan maupun manusia sehingga tidak membahayakan lagi.
Asal katanya disebutkan “Nangluk Mrana” berasal dari kata bahasa Bali yang kemungkinan juga mendapat pengaruh bahasa sansekerta.
  • “Nangluk”  berarti empangan, tanggul, pagar, atau penghalang; dan “mrana”  berarti hama atau bala penyakit.
  • Mrana adalah istilah yang umum dipakai untuk menyebut jenis-jenis penyakit  yang merusak  tanaman. Bentuknya bisa berupa serangga, binatang maupun dalam bentuk gangguan keseimbangan kosmis yang berdampak merusak  tanaman.
Jadi “nangluk mrana” berarti mencegah atau menghalangi hama (penyakit), atau ritual penolak bala.
Dalam lontar “Perembon Indik Ngaben Tikus”  sekilas dijelaskan bila tikus telah menjadi hama  ganas yang menyerang sawah petani, maka sebaiknya dilakukan upacara seperti mengupacarai orang mati biasa. Dan upacara hendaknya dilakukan di tepi pantai dengan cara dibakar.
Namun dalam lontar itu tidak dijelaskan secara rinci jenis upakara atau tetandingan banten maupun tata cara pelaksanaannya. Tata cara upacaranya seperti mengupacarai orang mati biasa dan hendaknya tempat upacara di tepi pantai dengan cara dibakar atau disebut dengan istilah “ngaben tikus”. Hal ini dijelaskan sekilas dalam lontar “Sila Gama Catur Pataka.”
Dalam lontar “Yama Tattwa” disebutkan bahwa waktu yang paling tepat untuk melaksanakan ngaben tikus adalah pada saat gugusan bintang di langit membentuk rasi tikus.
Hampir semua lontar yang sekilas menjelaskan ngaben tikus menyebut pantai (laut) sebagai tempat yang paling baik untuk menggelar upacara pengabenan tikus itu.
Menurut kepercayaan orang Bali, segala penyakit dan hama bersumber dari laut selatan yang dikuasai oleh Dewa Laut, Sang Hyang Baruna.
Dari laut selatan itulah segala hama penyakit disebarkan oleh Ratu Gde Mecaling (Penguasa Kegelapan) yang beristana di Nusa Penida.
Bahkan Pura Masceti yang terletak di pinggir pantai di Gianyar dianggap sebagai pura yang menguasai tikus. Para petani  wajib datang ke Pura Masceti memohon agar terhindarkan dari wabah tikus yang menyerang tanaman padi mereka.

Sasih yang paling baik untuk menggelar upacara Nangluk Mrana adalah :

  • Sasih keenam (Desember),
  • Sasih kepitu (Januari),
  • Sasih keulu / Kawolu (Pebruari),
  • Sasih kesanga (Maret)
yang menurut keyakinan orang Bali merupakan bulan-bulan rawan yang penuh marabahaya.  Menurut kepercayaan yang tumbuh subur di pesisir selatan Bali,
pada bulan-bulan keramat itu, seperti yang telah disebutkan di atas, penguasa Nusa Penida, Ratu Gde Mecaling sedang gencar-gencarnya menyebarkan wabah dan penyakit ke Bali daratan.
Dan pada bulan-bulan rawan itu biasanya berbagai jenis wabah penyakit merajalela. Untuk menetralkan kembali keseimbangan kosmis yang terganggu maka digelarlah berbagai jenis ritual penolak bala, salah satunya adalah ritual  Nangluk Mrana.

Sebagai tambahan,

  • keris juga digunakan pada saat upacara nangluk merana pecaruan sasih desa adatKuta.
  • Banaspatiraja merupakan kekuatan pelindung dari segala macam penyakit atau hama yang ada di sawah yang berfungsi sebagai nangluk merana untuk menetralisir kekuatan negatif.
  • Nangluk merana yang dilakukan oleh krama subak dalam rangka untuk menolak hama yang ada di sawah
  • Dalam penelitian ritual nangluk mrana ini disebutkan upacaranya terbagi menjadi dua yaitu ritual nangluk marana di lingkungan rumah tangga dan dalam bidang pertanian.

sumber: inputbali, balisaja, sejarahharirayahindu

error: