Pangunyan Sasih, Ramalan Cuaca Bulanan Menurut Hindu Bali

Gumi ngancan wayah, masan ujan panes, masan panes ujan.

Bumi sudah tua renta, musim hujan kering, musim kemarau turun hujan’ demikianlah kurang lebih komentar masyarakat lokal. Masyarakat awam menganggap hal ini sebagai pertanda bahwa dunia semakin aneh, kiamat sudah dekat. Benarkah demikian?

Sebagai orang Hindu tidaklah tepat beranggapan demikian, karena dalam ajaran Hindu ada pengetahuan astronomi, yang kemudian secara sistematis telah diwujudkan ke dalam bentuk kalender. Melalui kalender Hindu kita bisa memprediksi cuaca, baik bulanan maupun harian. Untuk prediksi cuaca bulanan dapat diketahui melalui pangunyaan sasih.

Pangunyan sasih terdiri dari dua kata yaitu Pangunyan dan sasih. Pangunyan berasal dari kata “unya” mendapat sengau “ng” kemudian mendapt awalan “an” (pa + ng + unya + an). Uya (ngunya) artinya berkunjung. Sasih berarti bulan. Pangunyan sasih artinya kunjungan bulan. Yang dimaksud adalah kunjungan suatu bulan (sasih) tertentu kepada bulan yang lainnya sehingga terjadi perubahan sifat bulan yang mengakibatkan perubahan musim. Misalnya sasih kanem ngunya kapitu (Kanem-kapitu) artinya bulan kanem mengambil sifat bulan katujuh (Kamus Bali Indonesia, 1978: 631, sebagaimana dikutip dari blog Sudarma, 2011).

Dalam setahun terdapat 12 sasih, enam bulan termasuk musim kemarau (Jyesta, Sadha, Kasa, Karo, Ketiga, Kapat), enam bulan berikutnya masuk ke dalam musim penghujan (kalima, kenam, kepitu, kawulu, kesanga, kedasa).

Dari pertemuan dua sasih, kita bisa memprediksi cuaca bulanan, seperti contoh misalnya yang terjadi pada tahun ini, dimana pada sasih Kesanga ngunya Karo, Sasih Kedasa juga ngunya Karo. Dari dua sasih ini terjadi penyatuan antara sasih penghujan bertemu sasih kemarau. Akibatnya terjadilah jarang hujan. Bilamana sasih yang termasuk sasih penghujan bertemu sasih penghujan, maka akan sering terjadi banjir besar, seperti misalnya sasih Kepitu ngunya Kawulu atau Kesanga ngunya Kepitu.

Sedangkan pada bulan ini atau sasih Sadha agak tidak tepat ramalan cuacanya, dimana pada sasih Sadha ngunya kapat, seharusnya jarang hujan, namun sering hujan. Kenapa begitu? hal ini terjadi akibat sasih Jyesta terjadi dua kali (dua bulan), dikenal sebagai mala Jyesta, sehingga sasihnya bergeser satu bulan, yang seharusnya sudah sasih Kasa. Bagaimana pengunya-ngunyaan sasih kasa?

Sebagaimana diketahui, sasih Kasa ngunya Kesanga, Sasih Karo ngunya Kawulu. Dari pengunya-ngunyaan ini wajarlah kalau bulan ini dan bulan berikutnya akan sering hujan, sedangkan pada musim penghujan beberapa bulan lalu terjadi sebaliknya; jarang hujan, karena pada sasih Kesanga dan Kedasa ngunya Karo.Bahkan sasih Kawulu ngunya Kasa.

Melihat dari pengunya-ngunyaan dari beberapa bulan lalu hingga beberapa bulan berikutnya, dalam setahun hampir merata turun hujan, dengan kata lain hujannya hampir setahun.

Panas menyentak atau menimbulkan kering kerontang di bumi bilamana sasih musim kering menyatu dengan sasih musim kering, umpamanya sasih Ketiga ngunya Karo, Ketiga ngunya Kasa, dsb. Akan terjadi sebaliknya bila sasih penghujan bertemu sasih penghujan, umpamanya sasih Kepitu ngunya Kepitu, Kewulu ngunya Kesanga. Berpeluang banjir besar berulang kali.

Bagaimana sistem ini bekerja? Saya bukanlah seorang astronom, tetapi hifotesa sederhana ini bisa menjelaskan. Sistem Kalender dibuat berdasarkan kedudukan benda-benda angkasa di langit. Kedudukan planet-planet dan bintang-bintang ini berpengaruh terhadap suhu di bumi, suhu ini berpengaruh terhadap arah angin, angin berpengaruh terhadap kelembabpan udara, kelembabpan udara berpengaruh pada cuaca; cerah, panas, berawan, hujan.

sumber: dharmavada, mertamupu

error: