Mangku Pastika: Wisatawan China Di Bali Tidak Suka Tempat Ibadah

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika ternyata secara diam-diam melakukan penelitian kecil-kecilan bagi perilaku wisatawan asal China yang datang ke Bali. Selain mengamati perilaku wisatawan asal China di Bali, Pastika juga pernah mengamati dan bertanya langsung ke Pemerintahan China saat dirinya pergi Provinsi Ghuan Chong, salah satu provinsi di Tiongkok beberapa waktu lalu.

“Setelah beberapa waktu melakukan pengamatan, akhirnya saya berkesempatan untuk bertanya langsung saat saya datang ke China, berdiskusi langsung dengan pemerintahan di sana. Saya tanya apa sih yang tidak disukai wisatawan asal Cina saat datang ke Bali, dan yang paling disukai orang China. Saya mendapatkan jawaban yang sangat mengejutkan. Dan kita harus menyiapkan itu semua bila ingin wisatawan asal Cina itu datang ke Bali,” ujarnya di Denpasar, Minggu (27/11/2016).

Pastika menjelaskan, oran China ternyata tidak suka ke Pura atau tempat ibadat. Makanya kalau guide Indonesia atau Bali memaksa mereka untuk mendatangi pura di Bali, maka mereka tidak happy. Tidak heran ada wisatawan China yang kalau masuk pura tidak respek, tidak menghormati, termasuk cara berbusana juga bisa dikatakan kurang sopan.

“Ini jangan dipaksakan. Jangan sampai ada agenda ke pura atau tempat-temat suci lainnya di Bali. Mereka tidak suka itu semua,” ujarnya. Seperti yang dilansir dari timesindonesia.co.id.

Selain tidak suka ke Pura atau tempat suci, orang China biasanya tidak suka belanja. “Bila guide mengajak mereka ke artshop, pasar seni, mereka mulai tidak suka. Karena harga barang-barang itu lebih murah di negaranya. Mereka tidak mau menghabiskan uangnya di Bali. Makanya guide jangan memaksakan wisatawan asal China untuk belanja hanya karena mau dapat komisi. Bisa marah mereka, dan lain kali tidak mau lagi ke Bali,” ujarnya.

Pastika juga menjelaskan, apa yang sangat disukai orang China di Bali. Pertama, laut. Mereka suka ke pantai, suka renang, suka bermain di laut. Itulah sebabnya, banyak wisata air, watersport, semuanya orang China.

“Coba diamati di beberapa titik wisata air di Bali. Di Tanjung Benoa, di Nusa Penida, Nusa Lembong, pasti semuanya wisatawn China,” ujarnya. Kedua, wisatawan negeri tirai bambu itu suka makan. Ketiga, wisatawan China suka spa, pijat. “Yang datang itu banyak pekerja, buruh pabrik. Mereka tidak suka macam-macam, kalau spa, pijat itu paling disukai,” kata Pastika.

Menurut Pastika, sebagai destinasi wisata, Bali harus menyiapkan itu semua. “Saat ini Bali dan Indonesia lagi digandrungi. Di Bali saat ini turis Cina terus bertumbuh. Lama-lama bisa mengalahkan Australia. Dan kita harus mampu menyiapkan apa yang mereka suka itu. Wisata laut, kuliner, spa, pijat. Itu harus disiapkan,” ujarnya. Pastika mengaku sudah bertanya langsung dengan salah satu gubernur di salah satu provinsi di China. “Saya tanya langsung, berapa sih orang dari provinsi anda keluar negeri. Jawabannya sangat mengejutkan. Dalam setahun seluruh buruh pabrik diberi kesempatan keluar negeri, minimal 10 ribu orang. Itu baru satu provinsi. Jadi seperti giliran untuk setiap pabrik. Rata-rata setiap karyawan pabrik selama 5 tahun sekali keluar negeri. Tidak semua, tetapi secara bergilir,” ujarnya.

Dan menariknya, mereka memilih Indonesia (Bali, Gorontalo, Manado) karena lautnya, makanannya, spa atau pijatnya. Rata-rata pertahun ada 100 ribu orang China keluar negeri karena dibayar perusahannya. Belum lagi orang Cina kaya, kelas pengusaha, konglomerat. Pastika mengaku, Bali, Indonesia harus bisa menangkap peluang itu. “Saya pernah berdiskusi dengan Gubernur Gorontalo dan Sulawesi Utara. Mereka mengaku, saat ini kewalahan menerima wisatawan asal China,” ujarnya.

Menurut Pastika, membludaknya wisatawan China ke Manado dan sekitarnya sangat beralasan. Di Bandara Manado, semua ucapan selamat datang menggunakan bahasa Mandarin. Brosur-brosur pake wisata, pakai bahasa Mandarin. “Dari sisi kuliner dan spa, pijat. Manado luar biasa. Orang Manado itu cantik-cantik, seksi-seksi. Orang Manado juga makan segalanya. Jadi cocok dengan orang China,” ujarnya.

sumber: timesindonesia.co.id

error: