Mecaru Vegetarian

Ada cerita yang sedikit menggelitik tentang keyakinan. Cerita ini bersumber dari : Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda yang dilansir dari situs mpujayaprema.com
Suatu hari ada sekelompok orang yang datang ke griya Pandita Mpu. Mereka ingin melaksanakan pecaruan di merajannya. Namun, karena mereka mengikuti kelompok spiritual tertentu, mereka ingin mecaru yang mereka sebut “secara moderen”. Jenis pecaruan itu sendiri adalah Panca Sanak, artinya memakai lima ayam dan satu itik. Tentu tergolong besarlah. Namun, karena ini mecaru “secara moderen”, mereka tak ingin memotong ayam dan itik. Tidak ada binatang yang dibunuh dan tak ada tetesan darah hewan apa pun yang ada, itu himsa karma, tak sesuai dengan Weda, begitulah mereka menyebutkanya.
Pandita Mpu kemudian memancing: “Bagaimana caranya, ya? Apakah ayam itu dilepas kembali setelah dipakai upacara?  Lalu bagaimana dengan cacahan atau ulaman-nya? Pakai daging apa?” “Tidak boleh pakai daging apapun Pandita,” kata salah seorang dari mereka. “Pokoknya semuanya tanpa daging. Ini semacarn mecaru vegetarian.” Pandita Mpu tertawa sebentar, baru pertama kali mendengar istilah “mecaru vegetarian“.
Namun, beliau meminta penjelasan Iebih lengkap. Dan salah seorang dari mereka, mungkin pemimpin kelompoknya, memberikan penjelasan panjang lebar. Banten itu adalah simbol belaka, jangan terjebak pada banten. Begitu kurang lebih penjelasan mereka. Umat Hindu di Bali selalu terjebak pada banten. Yang penting sesungguhnya adalah ketulusan beryadnya dan keyakinan yang tinggi. Kalau kita sudah yakin melakukan yadnya, termasuk yadnya mecaru, tidak harus ada banten, karena banten itu hanyalah simbol, bisa diganti simbol lain, yang penting kan yakin.
“Banten sebagai simbol diganti, maksudnya bagaimana?,” kembali Pandita Mpu bertanya. “Jadi, banten mecaru itu dibuat simple dan jangan rumit. Kalau kita tak bisa membuat pejati yang lengkap, cukup kelapa saja ditaruh, kemudian ditulisi “ini pejati”.
Maksudnya supaya Pandita Mpu yang akan muput tahu di mana letak pejati yang isinya simbol itu. Lalu kalau harus ada ayam, buat saja gambar ayam dari kertas, lalu gambar itu ditaruh di banten yang sederhana. Kalau ada belulang ayam yang digantung, gambar lagi di kertas dan kertasnya digantung. Itik juga begitu, tinggal menggambar saja di kertas.
Bahkan kalau ada banten yang rumit apa itu namanya byakawon, prascita dan entah apa lagi, cukup ditulis di kertas saja: ini byakawon, ini prascita, ini durmanggala dan sebagainya. Yang penting kan keyakinan ,kalau kita sudah yakin, apa pun di depan kita itu tak ada artinya lagi, Tuhan sudah tahu ,apalagi Tuhan sesungguhnya ada di dalam diri kita sendiri, jangan rumit-rumitlah Pandita,” kata orang itu.
Pandita Mpu Nabe hanya merenung sebentar lalu menjawab: “Bagus sekali, ini ide yang baik. Yang penting kita yakin.” Lalu semuanya tertawa tanda ada kecocokan dan semua merasa puas. Ketika Pandita Mpu bertanya, kapan mecaru, salah seorang menjawab: “Hari Minggu nanti Pandita, dan Pandita akan kami jemput pagi-pagi: Berapa orang yang ngiring?” Pandita Nabe pun menjawab dengan tenang: “Tak ada yang ngiring, bahkan Bapa juga tak ikut.
Nanti nanak akan Bapa berikan foto Bapa. Taruh foto Bapa di kursi dekat banten pecaruan itu dan anggaplah Bapa sendiri sudah datang dan muput upacara. Yang penting nanak yakin, kalau sudah yakin apa pun yang ada itu semua kan simbol saja. Nanak sudah mecaru dengan yakin,apakah itu benar atau salah, sudah diterima atau belum, tanya saja kepada Hyang Widhi yang ada di dalam diri nanak.”
Ida Pandita Mpu tak melanjutkan lagi bagaimana kisahnya, yang jelas sekelompok orang itu terus pergi dan tak pernah datang lagi. Logikanya Manusia ajah tidak mau dibohongi apalagi Tuhan
sumber: mpujayaprema.com, hindualukta
error: