Legenda Bunga Ratna Dan Bunga Teratai Menurut Hindu

Bunga tunjung atau teratai memiliki makna istimewa dalam tradisi Bali. Dalam lontar Dasanama disebutkan, bunga teratai atau teratai dipandang sebagai bunga yang paling baik. Lontar ini menyebut bunga teratai sebagai raja kusuma atau rajanya bunga-bungaan.

Menurut Drs. I Ketut Wiana dalam buku Arti dan Fungsi Sarana Persembahyangan menyebutkan dalam lontar Aji Kembang, Dewata Nawasanga (sembilan dewa penjaga sembilan penjuru mata angin) disimbolkan dengan bunga teratai.

  • Dewa Iswara di timur dilambangkan dengan teratai putih.
  • Dewa Maheswara di tenggara dilambangkan dengan bunga teratai dadu.
  • Dewa Brahma di selatan dilambangkan dengan bunga teratai merah.
  • Dewa Rudra di barat daya dilambangkan dengan bunga teratai jingga.
  • Dewa Mahadewa di barat dilambangkan dengan bunga teratai warna kuning.
  • Dewa Sankara di barat laut dilambangkan dengan bunga teratai warna wilis (hijau).
  • Dewa Wisnu di utara dilambnagkan dengan bunga teratai warna ireng (hitam).
  • Dewa Sambu di timur laut dilambangkan dengan bunga teratai warna biru.
  • Dewa Siwa di tengah dilambangkan dengan bunga teratai lima warna (pancawarna).

Tentang keutamaan bunga teratai, imbuh Wiana, juga diceritakan dalam lontar Dwijendra Tattwa. Diceritakan dalam perjalanan Danghyang Dwijendra dari Jawa ke Bali, sang wiku menjumpai seekor naga besar dengan mulut yang sedang menganga lebar dan sangat menakutkan. Danghyang Dwijendra dengan tenang memasuki mulut naga tersebut. Di dalam perut naga yang besar itu, Danghyang Dwijendra menjumpai sebuah telaga berisi bunga teratai tiga warna. Di timur berwana putih, di utara berwarna hitam dan di selatan berwarna merah.

Ketiga bunga itu dipetik Danghyang Dwijendra. Bunga teratai putih dipegang di dada, sedangkan yang berwarna hitam dan merah disuntingkan di kedua telinganya. Selanjutnya, wiku yang menjadi purohita kerajaan Gelgel itu keluar dari perut naga. Setelah berada di luar, istri dan putra-putrinya yang menunggu di luar sangat terkejut. Pasalnya, wajah Danghyang Dwijendra berubah menyerupai muka naga. Setelah dijelaskan duduk persoalannya, istri dan putra-putrinya akhirnya mengerti.

Selain teratai, bunga lain yang dipandang sebagai bunga utama sebagai sarana upacara yakni bunga ratna. Keutamaan bunga ratna ini diungkapkan dalam salah satu episode cerita Adiparwa. Diceritakan dua raksasa kembar sedang bertapa sangat tekun. Harapan kedua raksasa, mereka bisa menguasai sorga. Para Dewa di sorga amat khawatir. Untuk mengatasi hal itu, Dewa Brahma menugaskan Dewa Wiswakarma untuk menciptakan putri cantik untuk menggoda tapa raksasa tersebut.

Dewa Wiswakarma kemudian menciptakan putri cantik dengan sarana bunga ratna dan wijen. Terciptalah putri cantik itu dengan nama Tilotama. Saking cantiknya, dewa-dewa pun ikut terpesona. Bahkan, diceritakan, Dewa Brahma sampai berkepala empat agar dapat melihat putri itu dari segala penjuru. Begitu juga Dewa Indra disebutkan bermata seribu agar dapat melihat kecantikan Tilotama dari segala penjuru.

Tilotama kemudian melaksanakan tugas menggoda tapa raksasa kembar Sunda-Upasunda. Kedua raksasa itu kemudian berperang untuk mendapatkan Tilotama. Karena sama-sama sakti, kedua raksasa itu pun mati. Lantaran jasa bunga ratna yang berhasil menjadi putri cantik, bunga ratna pun mendapat waranugraha (anugerah) sebagai bunga utama untuk memuja Tuhan atau sarana utama untuk keagamaan.

sumber: balisaja, kanduksupatra

 

error: