Asal-Usul Pantai Watu Klotok

Pura Watu Klotok berada di Pantai Watu Klotok terletak di Banjar Celepik, Desa Tojan, Kabupaten Klungkung. Jaraknya hanya sekitar 5 km dari pusat kota semarapura, Klungkung. Salah satu yang menjadi daya tarik pantai Watu Klotok adalah panorama pasir pantai yang berwarna hitam serta pemandangan persawahan yang ada di sekitar pantai serta pemandangan Gunung Agung yang terlihat megah dan indah dari kejauhan.

pantai-klotok

Pantai Watu Klotok

Nama Pura Watu Klotok berasal dari kata “watu” dalam bahasa Bali yang berarti  Batu,  sedangkan kata “Klotok” memiliki artian “berbunyi“, dari sini asal kata watu klotok karena di Pura ini terdapat sebuah batu yang mengeluarkan bunyi jika dikocok dan menjadi salah satu peninggalan yang dikeramatkan di Pura ini.

Ada cerita lain dari masyarakat tentang sejarah berdirinya Pura Watu Klotok ini. Menurut cerita lisan yang berkembang di kalangan warga Desa Tojan, Pura Watu Klotok berdiri bermula dari sebuah batu makocel atau batu makocok. Diceritakan, pada zaman dahulu, ada seorang petani yang secara tidak sengaja menemukan batu ajaib di areal sawahnya saat mencangkul tanah. Keajaiban batu itu dilihat, karena setiap kali batu dikocok, akan terdengar bunyi beradu dari dalam batu itu. Karena hal itu dinilai ajaib, maka batu tersebut kemudian menjadi sungsungan subak dan berkembang menjadi Pura Watu Klotok.

Sejarah pendirian Pura Watu Klotok yang diceritakan dalam Lontar Dewa Purana Bangsul yang menceritakan tentang  perjalanan suci Mpu Kuturan ke Bali pada abad ke-10 masehi. Dalam Lontar Dewa Purana Bangsul berbunyi

“Beliau Hyang Raja Kertha, datang ke pinggir laut tenggara yang diberi nama Silajong Watu Klotok, demikian disebut orang, mendirikan pura buat menjaga upacara untuk danau, mendatangkan hujan lebat, mengalirkan air selalu membawa kehidupan segala tumbuh-tumbuhan bagai jiwa alam sekalian”.

Beliau Hyang Raja Kertha tiada lain adalah Mpu Kuturan, sampai kini, batu ajaib itu masih tersimpan di Pura Watu Klotok. Berbentuk lonjong dan lumayan besar dengan posisi berdiri. Warga Desa Tojan meyakini batu makocok itu sangat bertuah. Wangsuhpada atau “air basuhan” dari batu itu kerap dimanfaatkan petani untuk melindungi tanamannya di sawah dari hama dan penyakit.

Pura Watu Klotok dipuja Ida Sang Hyang Widhi sebagai penganugerah kesuburan. Karena itulah, dalam tradisi masyarakat di sekitarnya, bila terjadi hama yang menyerang tetanaman di sawah, petani bakal memohon keselamatan ke Pura Watu Klotok.

Selain batu ajaib tersebut di Pura Watu Klotok ini juga terdapat unen-unen atau rencang Ida Betara berupa tikus putih, ular belang dan penyu macolek pamor. Penyu macolek pamor tersebut  diyakini muncul seratus tahun sekali. Itu dibuktikan dengan terdamparnya seekor penyu raksasa beberapa tahun silam.

sumber : colekpamor.com, klungkungkab.id, biasputih.com

error: